Wednesday, August 24, 2016

Budaya Copas di Whatsapp





Budaya Copas di Whatsapp - Sebelumnya, kita sepakati dulu ya, sudah pada tahu kan maksudnya  copas ? Nah buat yang belum tahu (yang sudah tahu kedip-kedip aja ya hehehe) copas adalah sebuah kata yang merupakan singkatan dari copy paste; copy berarti menyalin sebuah karya, (bisa karya tulis, karya fotografi, karya seni dan karya lainnya )  dan paste berarti menempelkan karya tadi ke suatu tempat yang lain. 

Dalam komputer atau laptop, aktivitas ini bisa dilakukan dengan menyorot sebuah kalimat atau gambar lalu menekan tombol ctrl dan tombol huruf C untuk menyalin / menjiplak lalu menekan tombol ctrl dan tombol V di laman  atau tempat lain untuk menempelkannya. Sedang dalam gadget seperti smartphone berbasis android ataupun IOS cukup dengan menekan tulisan atau gambar tertentu yang akan dicopas agak lama sampai muncul tanda salin lalu pindahkan tulisan ke tempat lain baik itu sosmed atau notes lalu tekan kembali agak lama jari kita ke layar gadget di tempat yang kita tuju sampai muncul tanda paste.

Tapi makna di atas baru ditinjau dari sudut bahasa saja. Sedangkan yang akan dibahas di postingan ini adalah copas secara istilah yang bermakna menyalin ulang dan menempel karya orang lain TANPA MENYEBUTKAN nama penulisnya (jika karya itu berupa karya tulis) atau tidak menyebutkan nama pemilik fotonya (jika karya itu berupa karya fotografi) atau tidak menyebutkan nama pemilik atau pembuatnya apapun karya itu sehingga terkesan seolah-olah karya yang disebarkan atau yang dipertunjukkan itu merupakan karyanya sendiri. 

Copas dalam pengertian ini sering disebut juga dengan istilah menjiplak, menyontek, dan istilah-istilah lain yang dekat pada sifat curang yang relatif merugikan orang lain dan menguntungkan diri sendiri. 

Merugikan orang yang dengan segala upayanya menghasilkan sebuah karya tapi orang lain yang melakukan copas tadi yang menikmati keuntungannya karena bisa jadi dari hsil copas itu ia mendapatkan keuntungan berupa materil maupun non materil (materil berupa uang atau benda sebagai imbalan saat karya orang lain itu diakui sebagai miliknya) ataupun keuntungan non materil (seperti pujian, nama baik, dan sebagainya.) 

Sebetulnya, budaya copas ini sudah parah di segala media di masyarakat kita, tapi tulisan ini menyorot aplikasi whatsapp karena di aplikasi ini entah kenapa share tulisan copasan sulit terlacak dan tidak bisa ditelusuri sumber asalnya, tidak seperti media lain misalnya media sosial dan blog.

Budaya Copas di Whatsapp

Pagi ini saya tersentuh oleh sebuah tulisan (lagi) di salah satu grup whatsapp (WA) yang dibagikan oleh seorang membernya. Ya, nukilan-nukilan yang indah yang datang dan pergi setiap hari, setiap malam. Kadang saya skip karena tulisan itu pernah beberapa kali saya baca di grup lainnya, kadang saya berhenti untuk membacanya meskipun tulisan itu pernah saya simak sebelumnya. 

Memang tidak semua copasan tulisan yang dibagikan di WA itu membosankan, ada beberapa tulisan yang sangat sangat mengguggah hati dan membuka kesadaran. Banyak di antara sharing tulisan yang berseliweran itu sungguh-sungguh tulisan yang bagus, yang menurut saya mempunyai kekuatan untuk mengubah kehidupan orang lain menjadi lebih baik. 

Temanya beragam, tapi yang paling saya sukai cuma dua, yaitu soal kesehatan dan keluarga (tentang parenting dan cinta suami istri). Saya pikir, alangkah efektifnya share tulisan bagus-bagus itu di WA. Entah kenapa baca tulisan panjang di WA itu rasanya lebih enteng bahkan dibanding dengan membaca status-status yang sama panjangnya di media sosial. Mungkin karena suasana di WA lebih private ya ? bisa jadi. 

Ada dua hal sebenarnya yang kepikiran oleh saya setelah membaca tulisan-tulisan bernas hasil sharing sahabat-sahabat di WA-ku :


  • Rasa optimis, karena dengan maraknya sharing tulisan-tulisan itu menunjukkan tingginya minat membaca dan berbagi pengetahuan. Seperti yang saya tuliskan di atas, ada banyak hal-hal baru ataupun lama yang berguna diketahui dengan membaca tulisan-tulisan itu. Banyak orang yang mungkin tertolong dari bahaya stroke sehabis membaca copasan tulisan di WA, atau mungkin banyak keluarga yang lebih baik kualitas interaksinya setelah membaca goresan bijaksana di grup WA. 
  • Rasa prihatin, karena kebanyakan share tulisan-tulisan di WA itu kebanyakan tanpa mencantumkan nama penulisnya. Padahal duuh banyak sekali tulisan-tulisan cakep yang berharga yang pastinya dibuat oleh penulisnya dengan jalan yang enggak segampang ngemil snack. Ibarat makanan, tulisan itu makanan, pembaca itu pemakannya dan penulis adalah koki yang memasaknya. Berapa besar tenaga dan berapa lama waktu yang diperlukan seorang koki untuk menghasilkan makanan yang enak untuk dimakan dibanding tenaga dan waktu yang digunakan untuk menghabiskannya ? Jauh beda kan ? .

Suka sedih sendiri walaupun tulisan-tulisan yang dishare itu bukan karya tulis saya kalau enggak nemu nama penulisnya. Ya, walaupun hati masih terobati (tsaah) kalau masih ada orang yang rela mengetik di ujung tulisan nan panjang dan bermakna besar itu secuil kata dan huruf kecil : “copas”.

Memangnya seberapa penting sih menulis nama penulis atau setidaknya sumber tempat mengambil tulisan itu buat kita ? koq dimasalahin terus ?, sok suci sekali ya kesannya.
Nah, ini pernah kejadian juga sama saya dulu, duluuu sekali, pas awal-awal mulai punya blog. Dulu itu mana ada saya tahu soal copy paste. Saya pikir buat apa juga orang menjiplak tulisan saya yang biasa aja itu. Pelit amat sih, biarin aja orang mau copas kan ilmu yang kita pakai, ide yang kita dapat dan tenaga serta waktu yang kita gunakan bukannya milik Tuhan juga hakikatnya ?. Malah saya senang tulisan saya ada yang share, ada yang baca aja satu dua orang aja sudah senang apalagi dishare orang. 

Saya pernah menulis soal ini di blog saya yang lama kalau enggak salah judulnya :”Hak Cipta Milik Siapa”. Tulisan itu jujur, sebagai kritik saya pada beberapa blogger yang waktu sedang ramai mempersoalkan tulisan atau foto-fotonya dipakai orang lain tanpa izin, tanpa menyebutkan nama penulis aslinya, tanpa menyebutkan nama pemilik foto dan tanpa menyebutkan URL blognya.  

Pada saat itu, sekali lagi pada saat itu saya benar-benar heran ini apa sih pada ngeributin soal hak cipta, hak intelektual dan sebagainya. Dan saya dengan sok tahunya meluahkan opini saya yang intinya bahwa ilmu itu milik Tuhan, jadi bergantung pada niatnya waktu menulis untuk apa. Kalau tulus untuk berbagi harusnya nggak terusik kalau ada yang copas dong. 

Nah, tiba-tiba ada komentar masuk di postingan itu dari seseorang yang bernama ‘Anonim’ mengingatkan saya bahwa persoalannya enggak sesederhana itu. Dan darinya juga saya tahu ( oya si Anonim ini ternyata adalah blogger yang tulisan berupa kumpulan resep-resepnya dicuri itu) bahwa tulisan dan foto yang dicopas seseorang itu digunakan oleh sang penjiplak untuk diterbitkan sebagai buku untuk kepentingan dan keuntungannya pribadi ! 

Walah, jadi sampai segitunya ya dampak dari copas itu ? Dan seterusnya semakin lama saya beraktivitas di dunia penulisan dan banyak berinteraksi dengan para bologger dan penulis-penulis buku saya semakin tahu tentang hak proteksi tulisan dari pencurian atau copy paste orang lain alias aksi penjiplakan itu. 

Kan kebayang ya, menulis itu butuh banyak hal. Ya waktu, ya tenaga, ya tempat, ya kesempatan, ya mood, ya ide yang semuanya itu seringkali enggak bisa didapet bersamaan. Ada aja hal-hal yang bisa menghalangi proses menulis. Misalnya ada waktunya, ada tenaganya, ada tempatnya eh enggak ada ide dan moodnya. 

Atau ide sih banyak, mood juga lagi gairah-gairahnya nih, tapiiii harus antar anak kemana, harus masak apa dulu, harus benah-benah rumah dulu dan harus-haris lainnya yang akhirnya tenaga habis dan gak sempat menulis lagi. 

Apalagi kalau itu menimpa emak-emak dengan anak yang banyak dan masih kecil-kecil, kebayang nggak gimana rusuhnya dan lelahnya dan sulitnya cari kesempatan buat nulis. Sudah bisa duduk tenang sambil menulis saja sudah untung, tapi itu enggak dijamin bertahan dalam 10 menit. 

Ada juga yang menulis karena memang itu pekerjaannya, yang ia dibayar untuk jasanya menguraikan opininya, ide-idenya, imajinasinya dan sebagainya. Yang karenanya pasti si penulis ini akan bersungguh-sungguh dan sangat serius melakukan pekerjaannya. Pasti ada hal-hal yang harus disisihkannya demi bisa menghasilkan tulisan yang baik dan berkualitas agar sesuai dengan bayarannya. Pekerjaan-pekerjaan seperti copy writer, novelis, kontributor portal, penulis artikel, blogger, jurnalis dan sebagainya profesi-profesi yang berkaitan dengan kepenulisan. 

Saya sendiri sering mengalami apalagi saat anak-anak masih kecil, kesempatan saya untuk menulis hanya di waktu tengah malam, saat suami dan anak-anak sudah tidur. Saat semua orang berisitirahat saya baru bisa menulis, dan saya tetap paksakan menulis karena hanya dengan menulis saat itu yang terpikir oleh saya sebagai satu bentuk kebaikan tambahan saya sebagai istri dan ibu rumah tangga yang tidak bisa kemana-mana selain hanya berada di rumah dan di rumah karena saat itu anak-anak memang masih kecil. 

Saya baru merasakan empati saya diuji, bahwa jika saya dalam posisi seorang pembaca dari sebuah bacaan yang ditulis oleh seseorang, lalu saya merasa bacaan itu bermanfaat untuk saya pribadi maka betapa jeleknya saya jika tidak setidaknya berterima kasih walaupun hanya di dalam hati kepada penulisnya karena dengan sebab tulisannya pikiran dan hati saya tercerahkan. Apatah lagi jika saya ingin membaginya kepada orang lain agar orang lain pun mendapatkan manfaatnya, maka sangat terpuji jika sayapun menyebut nama penulisnya untuk menghormatinya, menghargai jerih payahnya menulis. 

Sejak itu saya sadar, bahwa menghargai karya orang lain dengan meminta izinnya untuk membagi, menyebut namanya sebagai penulis atau pemilik asli karya, atau setidaknya dengan menyebutkan nama sumber pengambilannya adalah sesuatu hal yang sangat terpuji dan tidak sulit. Enggak susah kan dengan hanya menyebut nama penulis atau pemilik karya ?, enggak susah kan menulis nama sumber ?.

Nah, saya rasa ini yang sedang tidak hadir di dalam kesadaran sebagian kita saat ini. Mungkin rasanya biasa saja, atau kenapa harus ribet sih, cuma copas komentar teman buat mengucapkan selamat ulang tahun aja sama yang sedang merayakannya. Apa sih masalahnya cuma copas kalimat istirja’ tanda ikut berbela sungkawa kepada teman yang sedang berduka. Apa sih persoalannya hanya copas ucapan selamat bergabung sama teman yang baru joint di grup WA ?
Iya, semua bermula dari kalimat :

”Apa sih masalahnya ?”

Padahal di sanalah masalahnya, persoalannya adalah untuk mengucapkan kalimat sependek selamat ulang tahun saja kita dengan malas berinovasi, dengan mudahnya memijat fasilitas copy paste di WA ataupun di media mana saja hanya untuk menjiplak ucapan teman.
Untuk hal yang remeh seperti itu saja kita enggak sadar harus menyontek, harus menjiplak tulisan teman yang sebenarnya kita bisa buat dengan kata-kata kita sendiri. 

Coba aja dirasakan, menulis ucapan simpati yang tidak terlalu panjang itu dengan kata-kata sendiri jauh terasa lebih tulus dibandingkan dengan membaca hasil copasan yang sampai titik komanya benar-benar sama persis. Menurut saya, si penerima ucapan juga akan lebih senang jika ucapan-ucapan simpati itu disampaikan dengan ketulusan.

Tapi mungkin karena sudah dianggap biasa, akhirnya hal itu menjadi dianggap sebuah kebenaran.  Dan tidak heran kalau budaya copas meng-copas tulisan orang lalu dibagi dengan tanpa menyebutkan nama penulisnya dianggap biasa pula dan dianggap sebagai sebuah hal yang baik-baik saja. 

Tapi lebih dari itu, saya tetap bahagia dengan besarnya budaya baca kita. Keberadaan gadget dalam kehidupan kita di era sekarang membuat kita jadi senang membaca, seenggaknya baca status medsos orang kan ? ^_^. 

Di medsos yang sering menjadi tempat sumber pengambilan tulisan untuk dishare di WA banyak terdapat status-status keren yang inspiratif. Tergantung siapa penulisnya, itu sebabnya juga kita jadi bisa lebih selektif dalam memilih teman online ya. 

Nah kalau budaya membacanya sudah bagus, justru melalui hal ini mungkin kita bisa membangun kesadaran banyak orang untuk meningkatkan kualitas kebaikannya yang senang membaca itu dengan menghargai karya penulisnya juga. Menghargai sang creator  dengan selalu menyebutkan atau menuliskan nama penulisnya jika diizinkan untuk membaginya, menunjukkan bahwa kita adalah masyarakat yang berbudi pekerti baik. Kalau bukan oleh kita, oleh siapa lagi ?

Sunday, August 21, 2016

[Advertorial] Hotel Konseda Hotelnya Para Traveller

Hotel Konseda Hotelnya Para Traveller - Hallo traveler, kamu lagi jalan-jalan di Jakarta ? Mau mengunjungi Monas dan beberapa tempat lainnya tapi bingung untuk urusan transportasi ? Jangan khawatir, karena selama di Jakarta kamu  memiliki banyak pilihan kendaraan yang bisa kamu gunakan untuk mencapai kemanapun tujuan, mulai dari commuterline, Transjakarta, Gojek, Grab dan angkutan umum lainnya.

 FYI, relatif lebih nyaman menggunakan angkutan umum daripada kendaraan pribadi sebenarnya, selain cepat, tarifnya juga tidak terlalu mahal. Misalnya, kalau kamu mau ke Monas, kamu bisa menggunakan busway dengan tarif tidak lebih dari 10 ribu rupiah. Atau misalnya kamu mau ke Kota Tua, kamu bisa menggunakan commuterline dengan tujuan penurunan stasiun Kota, dari situ kamu tinggal jalan sedikit saja untuk bisa sampai di Kota Tua. Tarif yang dikenakan juga sangat murah, cuma 3 ribu rupiah ditambah 10 ribu rupiah sebagai jaminan, kalau sudah diluar kamu bisa menukar tiket kamu dengan uang jaminannya.

Tentang commuterline ini, selain tarifnya murah kamu juga akan terhindar dari macetnya jalanan ibu kota, walaupun memang di jam-jam tertentu misalnya jam pulang kantor kita harus rela berdesak desakan dengan penumpang lainnya. Selebihnya, everything will be okay. Jangan khawatir dengan kurangnya transportasi yang ada di Jakarta.

Nah, selanjutnya kalau kamu kebingungan mencari penginapan yang bisa kamu gunakan selama berada di Jakarta, kamu bisa coba melihat beberapa penginapan yang dekat dengan lokasi tujuan kamu di situs Traveloka. Kamu bisa download dulu mobile aplikasinya di handphone-mu dan di sana kamu bisa lihat hotel mana yang cocok untuk dijadikan tempat menginap.  Kamu tinggal pilih dan  langsung booking hotelnya melalui aplikasi tersebut. Enggak sulit kan ?

Oya buat menjadi reverensi kamu selama di Jakarta, tau nggak, kalau di Jakarta ada satu penginapan yang menurutku sangat cocok untuk seorang traveler. Selain lokasinya yang cukup strategis karena berada di tengah kota, beberapa keunikan lain dari hotel ini juga akan membuat kamu nyaman.

Hotel Konseda namanya yang mempunyai nuansa butik ini terletak di Jalan K.H Wahid Hasyim Nomor 127 Jakarta. Dari nampak luar hotel ini  terlihat cukup unik, dominasi warna abu  dan juga cone block yang disusun rapi membuat cantik penampilan pagar di bagian depan hotel dan juga jalan yang menuntun kita untuk sampai di pintu masuknya.


C:\Users\User\Pictures\h\4.PNG
Sumber : Traveloka


Saat masuk ke dalam hotelnya, kita akan disuguhi dengan keindahan pernik serta ornamen yang menghiasi hotel yang berkesan cozy dan homy seakan merasakan seperti sedang diruang tamu sendiri. Hotel yang diklaim sebagai Indonesia’s First Design ini memang mempunyai koleksi grafis yang sangat menarik di setiap sudutnya. Beberapa di antaranya ada yang menggambarkan mengenai aktifitas masyarakat Jakarta. 

C:\Users\User\Pictures\h\5.PNG
Sumber : Traveloka


Tidak hanya di bagian luarnya saja, di bagian dalam hotel hingga ke setiap sudutnya bahkan sampai ke dalam toiletnyapun disentuh oleh berbagai macam karya grafis yang dipajang sedemikian rupa di permukaan dindingnya. Bahkan delapan lantai yang dimiliki hotel ini juga begitu cantik dipenuhi oleh ragam pernik unik pada setiap bagian lorong kamarnya, hampir seluruhnya terbuat dari blok kayu yang tersusun dengan asimetris ditambah dengan dekorasi yang menyerupai laba-laba dalam ukuran sangat besar.

Hal unik lainnya lagi yang terdapat di hotel ini adalah keberadaan The Awan Lounge, sebuah tempat rileks untuk kita berkumpul bersama keluarga dan atau teman-teman yang sudah mulai buka dari pukul 6 sore sampai pagi hari. Ada juga cafe yang bisa kita kunjungi dengan suasana yang menyenangkan yakni Waha Kitchen yang terletak di lantai dasar dengan beberapa kursi yang didesain menarik serta dilengkapi dengan ornamen penghias lainnya. Sangat cocok jika ingin digunakan sebagai tempat berkumpul besama teman-teman atau kolega kerja.

C:\Users\User\Pictures\h\1.PNG
Sumber : Traveloka

Selain strategis dan mempunyai keunikan grafis di setiap sudutnya, hotel ini juga menyediakan banyak sekali office supplies seperti pulpen, paper clip dan lain lain, serta banyak stop kontak yang pastinya sangat cocok untuk kita yang tak pernah lupa  membawa gadget kemanapun. Oh, iya buat kamu yang concern dengan berat badan, bisa juga menggunakan timbangan yang ada di setiap kamarnya.

C:\Users\User\Pictures\h\2.PNG
Sumber : Traveloka


Oya hotel ini juga cukup mudah di akses dari HI, Monas, Sarinah dan juga pasar Tanah Abang yang jaraknya sangat dekat sekali tidak sampai lebih dari 4 kilometer. 

Oke traveler, selamat berjalan-jalan di Jakarta ya 

Saturday, August 20, 2016

Tips Menghindari Modus Penipu Online


Tips menghindari penipu online

Disclaimer :


Tulisan ini bukan bermaksud untuk menyudutkan Facebook sebagai salah satu jejaring sosial yang begitu banyak penggunanya di dunia khususnya di tanah air kita Indonesia, hanya mengambil sample yang banyak terjadi yang kasusnya berawal dari interaksi orang-orang di dalamnya.

Bagi saya, Facebook sendiri seperti halnya media-media lain, hanyalah sebuah sarana interaksi dan komunikasi yang netral, yang pada satu sisi justru berdampak positif pada kehidupan sosial masyarakat di era teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini. Adapun persoalan-persoalan negatif yang menyertainya merupakan dampak yang kejadiannya bergantung pada pribadi masing-masing penggunanya. Untuk itu perlu sangat bijak dalam mensikapi dan memperlakukan media ini.


***


Sudah bukan hal yang aneh atau rahasia lagi, kalau di dunia maya kita sekarang khususnya di jejaring sosial yang namanya facebook banyak sekali kejahatan atau kejadian yang merugikan seperti penipuan bahkan berlanjut ke kejahatan bentuk lain di alam nyata korbannya misalnya seperti penculikan, pemerkosaan bahkan pembunuhan. Semua bermula dari saling berkenalan, lalu berhubungan secara intens dengan jaring jebakan “asmara” di media facebook.

Kenapa soal “asmara” merupakan penyebab terbanyak dari kasus kejahatan di media sosial facebook ? Karena asmara memang yang paling mudah untuk dijadikan modus operandi. Karena orang yang sudah dibelit asmara adalah orang yang bak kerbau dicucuk hidungnya, percaya dan mau saja dibawa kemana-mana.  Karena dengan asmara kata Agnez Monica cinta tak ada logika. Ya, dengan asmara banyak wanita yang patah tak hanya hatinya tapi juga dompet dan kehormatannya.

Belakangan di berita-berita nasional aja sudah berkali-kali dikabarkan soal penipuan, penculikan atau bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku dengan modus seperti yang saya tulis di atas kepada (kebanyakan) ABG-ABG perempuan.

Masalahnya, korban penipuan dengan kasus seperti itu ternyata nggak hanya menimpa para ABG saja, banyak sekali wanita dewasa bahkan usia separuh baya yang notabene secara pengalaman hidup dan tingkat intelektualitas yang cukup bagus yang menjadi korban juga.
Saya cukup surprise saat membaca komentar-komentar di sebuah status teman FB yang membahas soal ini, bahwa ternyata ada beberapa wanita separuh baya yang mengaku pernah tertipu, kasih uang dalam jumlah lumayan besar begitu saja pada “pacar” mayanya yang belum pernah ditemuinya secara langsung. Laki-laki yang jauh lebih muda darinya yang bikin saya “woow” (atau bisa jadi dianggap anak juga kali ya). Yang pasti saya baru baca pengakuan langsung seperti itu di wall FB orang bahwa penipuan seperti itu benar adanya.

Saya pribadi pada dasarnya welcome aja pada siapapun yang mau berteman di facebook termasuk teman-teman pria. Banyak sekali teman-teman baik wanita maupun laki-laki di medsos seperti facebook ini yang berpengaruh positif pada kehidupan nyata saya seprti dalam hal hobi dan karir kepenulisan. Bahkan, saya mendapat kesempatan dan ajakan bekerjasama dari sebuah penerbit besar untuk menerbitkan buku melalui editornyapun melalui messenger facebook loh.

Tapi, adakalanya, saya juga menerima pertemanan dari kalangan lain yang benar-benar nggak berhubungan dengan aktivitas menulis saya, seperti para pengamat politik (yang baik dan lucu-lucu tapi), teman alumni sekolah, tetangga, temen sekolahnya anak-anak (^_^) online shopper, dan para pemudi-pemuda Indonesia (halah). Etapi bener lho, saya enggak menerima pertemanan pemudi pemuda mancanegara, apalagi yang berseragam dan banyak itu (Ntar saya ulas juga soal para pria berseragam ini).

Yang pasti, saya senang masih ada yang mau berteman dengan saya di FB. Biarpun saya lebih banyak pasifnya tidak meng-add orang hanya sekedar untuk menambah friend list, tapi saya termasuk yang “orang-pinter-freak”, maksudnya kalau tahu ada orang pinter (pinter nulisnya, atau pinter fotonya, atau pinter dua-duanya) melalui sharing orang di timeline fb saya, saya pasti kepo dan stalking akun Fbnya sebelum akhirnya add akunnya, dan tadaaa … besok-besoknya banyak status-status keren bermunculan di timeline FB saya.

Nah yang emejing, kalau sudah ada friend request dari akun-akun dengan foto profil pemuda-pemuda Indonesia tadi, yang awalnya kirim message sopan ingin berteman, lalu pas udah dikonfirmasi kirim inbox terus menerus untuk urusan yang ajaib macam “lagi ngapain ?”, “udah sarapan belum ?”, “udah sholat belum ?” dan sapaan-sapaan klise lainnya. Yang walaupun diabaikan, tapi selama belum dibalas tetap maju tak gentar, membela yang sabar. *lol .Nggak tau dia, kalau yang disapa kayak gitu udah punya anak kelas 2 SMA ^_^

Kadang-kadang saya ada rasa penasarannya juga, beberapa kali pada akun yang mencurigakan saya respon positif. Hanya jawaban-jawaban pendek, tapi nanti dia semakin agresif. Tujuan saya ingin membuktikan apa yang diceritakan orang (menyelikidi ceritanya ^_^) , dan kadang suka lebay juga, kepikiran ingin menyadarkan orang-orang seperti mereka, kan kasihan korban-korbannya kalau memang beneran dia penipu. Kepingin nanya apa penyebabnya koq harus begitu, apa benar-benar masalah keterbatasan ekonomi atau bagaimana dsb.

Lagian tampang saya juga bukan tampang wanita tajir perasaan, saya jarang foto dengan latar belakang tempat-tempat yang mewah karena memang jarang kemana-mana juga (^_^), dan bisa dibilang nggak pernah selfie dengan latar di dalam mobil atau sedang nyetir mobil pribadi, atau apapun yang nunjukkin saya punya sesuatu karena memang saya mah orang kecil, baju aja ukuran S apa M gitu.

Nah terus saya hitung nih baru dua hari kenal koq udah minta PIN BBM, minta nomor whatsapp, minta id LINE dsb yang menurut saya ini tipe cowok nggak sabaran banget dan lebih dari itu kurang sopan. Tapi mungkin ya memang begitulah ya orang sedang PDKT, harus semangat hehe.

Cuma, bagaimanapun saya nggak berbakat jadi spy, sama sekali nggak ada keahlian jadi detektif blass. Kalau itu orang sudah membanding-bandingkan dia dengan suami saya dan lalu terkesan “mengecilkan” suami saya, uh saya bisa langsung terbakar kalau sudah soal kehormatan keluarga.  Oya saya sejak awal dengan siapapun enggak pernah menutupi status pernikahan kan, di FB saya ada status pernikahan, ada foto keluarga, suami dan anak-anak, keluarga besar saya semuanya. Siapapun termasuk yang mau modus bisa cari tahu status saya.

Jadi ceritanya, yang tadinya dia mau ada rencana apa, dan yang tadinya saya mau buat semacam penelitian tentang kasus modus-modus itu gagal total.  Keburu saya unfriend bahkan ada juga yang saya block.

Nah beberapa minggu kemudian, enggak sampai sebulan koq rasanya, ada lagi tuh di friend request list saya yang foto profilnya mirip sekali dengan orang tadi yang sudah saya unfriend itu, tapi dengan nama yang berbeda. Saya perhatikan ini dua akun dengan foto profil orang yang sama, add saya dalam waktu yang berbeda, apa maksudnya ? entahlah. Yang pasti saya pilih menghindari masalah. Tau diri aja bahwa saya bukan orang yang tepat buat melakukan investigasi macam ini.

Tapi dari pengalaman orang lain termsuk teman saya sendiri malah, kita bisa tahu beberapa hal bahwa ternyata kasus-kasus dengan modus operandi asmara itu punya beberapa tujuan pelaku, diantaranya adalah :

  1. Menguras harta korban; jadi si calon korban awalnya dibuat jatuh cinta dulu, dirayu-rayu sedemikian rupa sampai mereka jatuh hati. Nanti setelah perangkapnya kena, si pelaku penipuan bisa mengendalikan korbannya bagaimanapun caranya, ada yang diajak ketemuan lalu diculik dan dipreteli perhiasannya, ada yang nggak harus ketemuan tapi pura-pura kesulitan keuangan lalu meminjam uang korban dengan janji dibayar secepatnya, ada yang malah berani minta ongkos buat modal ketemuan sama calon korban dengan alasan ATMnya bermasalah (ini sih kasus teman FB saya yang mengaku ditipu itu), ada yang memeras korban dengan mengancam akan menyebarkan foto tak pantasnya (kan ada yang gaya pacarannya bebas sampai mau aja video call dan berpenampilan minim di hadapan pacarnya), ada yang terang-terangan pinjam uang dengan alasan untuk tambahan biaya pengobatan orang tua atau anaknya di rumah sakit  dan sebagainya. Pendeknya sang penipu akan mengajukan apapun alasan untuk menguras harta korbannya, untuk kemudian menghilang tanpa jejak sebelum korban sadar bahwa ia telah ditipu.
  2. Mencari kepuasan sexual; untuk kasus ini si pelaku memang berniat ingin menyalurkan kebutuhan seksualnya. Biasanya calon korbannya dicari dari kalangan wanita-wanita muda yang berpenampilan cantik dan seksi menurutnya. Walaupun pada beberapa kasus banyak juga wanita berumur separuh baya yang menjadi korbannya. Pada pelaku kejahatan dunia maya seperti ini pelaku tidak selalu berstatus single, menurut sebuah portal majalah wanita banyak juga dari mereka adalah pria-pria yang sudah menikah dan memiliki anak dengan berbagai latar belakang dan alasan.

Wah ngeri ya ternyata, so berhati-hatilah dalam menerima pertemanan ya, karena nggak semua orang di dunia kita ini baik. Karena banyak faktor, mereka para pelaku kejahatan itu bermunculan memanfaatkan dunia maya.

Dari akun facebook seorang teman saya bernama Risa Amrikasari edisi 7 Agustus 2016 saya membaca status beliau berbunyi seperti ini :

 “Akun yang pasang foto profile laki-laki muda, ganteng, berseragam, “friends”nya perempuan semua dan akun yang pasang foto perempuan muda, cantik, berbusana seksi atau tertutup lengkap dengan hijab, friends-nya kebanyakan laki-laki, bisa diduga akun penipu online. Be selective in accepting friends”. (Risa Amrikasari).

Nah saya akan gabungkan tips beliau dengan beberapa tips lain berdasarkan kasus- kasus yang ada supaya teman-teman bisa berhati-hati dalam berteman di media sosial.

Jadi, ciri-ciri akun penipu online itu diantaranya adalah :

  1. Memasang foto profil laki-laki muda ganteng, sebagian di antara mereka menampakkan sebagai profil polisi/tentara, atau profesi-profesi yang dianggap keren.
  2. Memasang foto profil perempuan muda nan cantik dan seksi, atau anggun dengan pakaian tertutup dengan hijab. Dalam hal ini, tidak terlalu menekankan pada profesi karena mereka tahu, wanita cukup bermodal wajah cantik saja sudah menjadi magnet bagi kebanyakan kaum pria. (Enggak semua pria ya).
  3. Friend list-nya kebanyakan atau bahkan semuanya wanita (jika teman Fbmu itu laki-laki) atau friend list-nya kebanyakan pria (jika teman FB-mu itu wanita). Tapi sayangnya, facebook mempunyai fitur untuk menyembunyikan daftar teman sehingga pada pelaku-pelaku kejahatan penipuan yang sudah berpengalaman biasanya mereka memanfaatkan. fitur ini untuk menutupi friend listnya alias calon-calon korbannya dari perhatian publik.  
  4. Sering membuat status-status pendek yang menunjukkan perasaan melankolis, kesepian, romantis atau tulisan-tulisan yang “mengundang” untuk ditanggapi dan digoda oleh teman lawan jenisnya.
  5. Sering membuat status-status atau postingan foto ganteng dan cantiknya yang mengundang simpati atau rasa iba orang.
  6. Bisa juga jarang membuat status tapi setiap waktu gerilya di inbox atau messenger calon korban. Jika dicermati sebenarnya bisa dicurigai sejak dini tentang hal ini,, kalau memang dia seorang abdi negara (misalnya jika yang punya akun berfoto profil seorang polisi / tentara) masa di jam kerja inbox-an atau bbm-an melulu. Atau andai dia seorang pegawai atau bahkan direktur kantoran, masa waktunya dihabiskan Fban atau chatiingan terus ? Nggak produktif-kan kalau memang dia seorang pekerja ?
  7. Cepat dan mudah menggunakan panggilan yang intim seperti sayang, honey, cinta dan sebagainya. Hal yang kurang wajar dalam sebuah proses hubungan cinta yang normal walaupun waktu untuk merasa dekat itu relatif.
  8. Agresif, senang memaksakan kehendak misalnya seperti meminta nomor HP, PIN BBM, ID Line atau meminta foto-foto pribadi apalagi jika hubungan berjalan mulus, si pelaku berani mendesak korbannya untuk berpose tidak pantas untuknya untuk tujuan pemerasan di waktu yang akan datang.
  9. Tidak peduli pada keberadaan keluarga calon korban, jarang  menanyakan keadaan saudara atau pasangan atau anak korban. Hal ini sengaja dilakukan untuk membuat korban hanya fokus pada sosok si pelaku saja. Semacam Intimidasi halus yang membuat perasaan si korban semakin terpaut pada pelaku, dan semakin renggang dengan keluarganya sendiri. Itu sebabnya banyak korban yang mengalami kehancuran rumah tangga karena ulah pelaku.


Wah seram juga ternyata ya kasus penipuan di dunia maya ini, semoga kita semua dilindungi dari hal yang seperti itu. Tapi tentang hal ini saya pribadi nggak bisa judge para korban itu juga misalnya seperti :

“Kenapa juga mau-maunya melayani rayuan gombal para lelaki itu, apalagi wanita sudah bersuami kan harusnya membatasi diri sejak awal ?”

Ya, keadaan dan pengetahuan orang kan memang berbeda-beda ya, yang penting dengan maraknya kejadian seperti ini, kita bisa lebih mawas diri, mawas keluarga. Lebih memesrakan lagi hubungan dalam keluarga terutama pasangan dan anak-anak, dan saling menjaga satu sama lain dari masalah apapun yang datang dari luar.

Saya sendiri terkait dengan hal sosial media punya beberapa kesepakatan baik pribadi maupun dengan suami, untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan, yaitu saling percaya namun juga saling terbuka satu sama lain, jadi kita masing-masing punya gadget dan akun-media sosial tapi kami tahu password akun masing-masing. Bahkan semacam ada kesepakatan tak tertulis seperti ini :

” Jangan ada password di antara kita ” (((^_^)))

Karena tak ada rahasia dan tak ada yang ditutupi, kita geletakkin gadget macam HP atau laptop dimanapun enggak ada masalah, dan dengan begitu juga hati masing-masing jadi tenang. Kalaupun harus ada password biasanya anak sulung saya lebih disebabkan karena temannya suka bajak bbm dia dan pasang status aneh-aneh katanya hahaha, tapi sama ortunya sih alhamdulillah Zahra selalu jujur dan terbuka. Untuk yang boys, anak laki-laki saya (sekarang sudah kelas 2 SMP dan kelas 5 SD) jujur belum berniat memberi mereka HP pribadi, mungkin nanti kalau sudah benar-benar diperlukan.

Intinya, memperkuat bonding internal keluarga. Insya Allah godaan dari manapun nggak akan bisa merusak kebersamaan kita. Bagaimanapun yanv namanya godaan ataupun cobaan yang buat seseorang sampai tertipu bisa datang dari mana aja, enggak harus dari orang yang baru dikenal. Dari teman lama pun bisa saja, tergantung orangnya dan tergantung kitanya juga apakah membuka kesempatan orang lain memperdaya kita atau tidak. 

By the way, saya juga tidak men-generalisasi kasus ini, seperti yang saya tulis di atas. Facebook dan tools messenger-nya hanyalah media komunikasi yang netral. Banyak orang baik-baik yang menggunakan media ini untuk tujuan yang baik juga. Jadi jangan takut asalkan kita selalu berhati-hati menggunakannya ya.

Nah, itu saja yang bisa saya sampaikan, semoga kita semua terlindung dari kejahatan apapun ya teman-teman. Aamiin.

Tuesday, August 16, 2016

Seberapa Besar Penghargaanmu Seagung itu Pula Kehormatanmu



"Seberapa besar penghargaanmu seagung itu pula kehormatanmu bahkan lebih, lebih dan lebih lagi. "


Saya percaya kalimat itu sejak lama, entah kapan. Lupa. Tetapi banyak buktinya, berserakan kesaksiannya.

Penghargaan Seorang Ibu


Suatu hari, di sekitar tahun 1854, Nancy; seorang wanita yang tinggal di Milan, Ohio sebuah negara bagian Amerika Serikat mendatangi sebuah sekolah tempat anaknya dititipkan untuk ikut belajar. Nancy mendatangi sekolah itu karena sehari sebelumnya anaknya yang tuna rungu dan dianggap bodoh oleh guru dan teman-temannya pulang kepadanya sambil menangis dan menyampaikan secarik surat untuk ibunya dari gurunya yang menyatakan bahwa sekolah sudah tidak sanggup lagi mendidiknya.

Berbicara bertatap muka, mempertanyakan dan memohon belas kasihan agar anaknya bisa tetap ikut belajar di sekolah rupanya tak membuat Reverend G.B. sang guru mengubah keputusannya. Maka dengan kepala tegak Nancy yang menyadari sekolah telah menolak dan mengeluarkan anaknya itu berucap dengan lugas :

Anak saya bukan anak yang bodoh, jika anda tak sanggup mengajarinya, saya sendirilah yang akan mendidiknya” 

Maka demikianlah, tekad dan perjuangan Nancy mendidik anaknya yang kehilangan kemampuan pendengarannya akibat sebuah penyakit yang pernah dideritanya saat masih kecil bertambah besar dan berat. Memang bukan hal yang mudah menjadi guru anak berkebutuhan khusus lagi dipandang terbelakang oleh masyarakat. 

Namun Nancy menghargai karunia anak yang dititipkan Tuhan kepadanya meski selain dia tak ada yang percaya anaknya berharga. 

Dibelikannya sang anak buku-buku pengetahuan untuk dibacanya di rumah yang dengannya “si bodoh” kata orang itu melakukan percobaan-percobaan di atap rumahnya. Tidak hanya itu, Nancy pun mempelajari semua buku yang dibelinya agar dapat memahami apa yang diajarkannya kepada anaknya.

Ketika anaknya menjelang usia 12 tahun, saat-saat dimana sang putra semakin kehilangan pendengarannya, dibiarkannya ia bekerja sebagai penjual koran,  apel dan gula-gula di jalur kereta api Port Huron – Detroit untuk lebih melatih kemandiriannya. 

Hingga saat menginjak usia 15 tahun anak ini berhasil membeli sebuah mesin cetak bekas yang dibelinya dari uang tabungannya. Lalu ia mencetak, mengedit dan menjual surat kabarnya sendiri yaitu Weekly Herald.

Nancy merawat dan mendidik sang putra sepenuh jiwa, tenaga dan pikirannya sampai di kemudian hari si tuna rungu yang di masa kecilnya dianggap bodoh oleh guru-guru dan teman-temannya itu diakui dunia sebagai penemu teknologi  lampu pijar  dan menjadi pemilik belasan perusahaan raksasa yang salah satunya adalah perusahaan publik terbesar di dunia yaitu General Electric. 

Ibu yang menghargai potensi anaknya sepenuh hati hingga menuai keberhasilan dan kehormatan masyarakat dunia yang membanggakan ini adalah Nancy Matthews Edison, ibunda dari Thomas Alva Edison sang penemu lampu pijar.


Thomas Alva Edison



Penghargaan Seorang Pejuang



Adalah Nelson Mandela, seorang tokoh pejuang anti apartheid dari Afrika Selatan pernah mengajarkan kepada dunia makna penghargaan pada kemanusiaan, dimana perbedaan apapun termasuk perbedaan warna kulit manusia tidak boleh menjadi sebab diskriminasi kelompok manusia satu kepada kelompok manusia lainnya.

Namun apartheid yaitu politik pemisahan ras yang diterapkan oleh penguasa ras kulit putih di Afrika Selatan pada awal abad ke 20 hingga tahun 1990 justru menindasnya. Menginjak-injak harga kemanusiaan hanya karena perbedaan ras dan warna kulitnya.   

Hal ini menjadi pemicu bangkitnya gerakan perlawanan anti apartheid oleh ribuan pemuda termasuk salah satunya adalah Nelson Mandela. 

Diawali dengan bergabungnya Nelson Mandela ke dalam Partai Nasional Afrika (ANC) untuk memperjuangkan hak kaum kulit hitam, namun kemudian hal ini jugalah yang menjadi penyebab dijebloskannya ia ke dalam penjara rezim berkuasa di kepulauan Robben sebuah tempat yang sangat terpencil di Afrika demi menjauhkannya dari pejuang pengikutnya.

Berbagai macam siksaan demi siksaan dialami pemuda Mandela ini di dalam penjara. Tiada hari dilaluinya melainkan bersama penderitaan, bukan saja derita fisik namun bathinnya pun dibuat sedemikian rupa agar turut tersiksa. Selain ditempatkan  di tempat yang buruk dan menjijikkan, kerja paksa dan kelaparan. 

Nelson Mandela pun diisolasi dari dunia dan orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Mandela tidak diperkenankan bertemu dengan keluarganya, bahkan saat ibu dan anaknya meninggal ia pun tak diizinkan untuk menziarahinya. Begitupun dengan karunia kelahiran putri bungsunya, Nelson Mandela baru bisa melihatnya untuk pertama kali saat usia sang putri menginjak 17 tahun. 

Namun rupanya penjara dan segala nestapa di dalamnya menjadikannya semakin menghargai kehidupan. Siksaan demi siksaan mengubahnya dari pemuda yang reaktif dan radikal menjadi pribadi yang tenang dan bijak. Tidak lagi melihat dan menghayati takdirnya sebagai kegetiran hidup, namun sebaliknya dijalaninya hari demi hari dengan kesyukuran dan menjadikannya ruang kontemplasi yang lebih jauh dan dalam. 

Mandela menghadapi sipir-sipir penjara bukan sebagai jagal-jagal tak berjiwa, ia percaya bahwa setiap manusia memiliki hati nurani dan cinta, maka meski mereka menyiksanya Mandela tetap menghargai sisi kemanusiaannya. Mandela percaya bahwa cinta menular dan bisa diajarkan, maka sebagai orang terpenjara ia justru menjadi guru kehidupan para sipir dan teman-teman seperjuangannya. Memilih cinta kasih sebagai jalan perjuangannya. 

Selama 27 tahun dipenjara Mandela memilih kebijaksanaan, kasih dan perdamaian sebagai landasan perjuangannya dalam melawan ketidak adilan.  Dan karena itu pula pada akhirnya saat ia dapat kembali menghirup udara kebebasannya Mandela memimpin kaumnya untuk memaafkan dan berdamai dengan penindas mereka. Dengan cara itu Mandela bahkan berhasil mengajak mantan musuhnya dari rezim kulit putih yang dipimpin oleh Presiden de Klerk untuk bersama-sama menghancurkan sistem apartheid dari bumi Afrika selama-lamanya. 

Pada tahun 1992 Nelson Mandela terpilih sebagai presiden pertama Afrika Selatan dari ras kulit hitam secara demokratis, dan dua tahun kemudian beliau bersama presiden Afrika Selatan sebelumnya de Klerk menerima penghargaan Nobel Perdamaian dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).


Nelson Mandela


Seberapa Penting Makna Penghargaan Untuk Manusia ?


Betapa banyak orang di dunia ini yang tak kita kenal yang telah memuliakan dan menghargai kehidupan sedemikian rupa sampai orang tak merasa bahwa mereka telah dibawa pada kehidupan yang lebih baik dan indah. Manusia yang memanusiakan manusia lainnya. Manusia yang menghargai sesamanya sesuai dengan keluhuran nilainya di mata Pencipta mereka. 

Dan berapa banyak orang yang kita lihat merendahkan bahkan menista sesamanya sedemikian rupa sehingga orang-orang tak merasa bahwa mereka telah digiring pada kehidupan yang penuh kebencian dan permusuhan. Manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Manusia yang kehilangan harganya sebagai sesama makhluk Tuhan.

Mari kita perhatikan fenomena time line media sosial saat ini misalnya, saat seseorang melempar sebuah issue sedang hangat di dalamnya lalu datang komentator pertama dengan bahasa yang netral, komentator kedua dengan bahasa yang santun, dan komentator ketiga dengan bahasa yang kasar. Bagaimanakah kira-kira respon orang-orang berikutnya pada ketiga komentar tersebut ? akan samakah ? Komentar mana yang paling mengundang reaksi positif dan komentar mana yang paling mengundang reaksi negatif ?

Semua tahu jawabannya, kata-kata yang baik dan santun akan merangsang orang lain untuk membalasnya dengan baik dan santun pula bahkan meskipun berbeda pandangan. Begitupun sebaliknya kata-kata yang tidak sopan dan kasar akan menstimulasi emosi orang lain untuk melakukan hal yang sama yakni berkata-kata yang beringas dan kasar pula. 

Semakin berlanjut pertikaian pandangan dalam bahasa yang garang maka akan semakin memanaskan suasana, maka tak heran perselisihan kata-kata bisa berlanjut pada perkelahian fisik. Orang tak lagi segan untuk saling melukai bahkan saling membunuh bermula dari ucapan yang menyakitkan. 

Ucapan yang menyakitkan kepada pasangan, anak, orang tua atau siapa saja adalah tanda bahwa kita tak menghargai mereka . Sikap yang merendahkan teman, kerabat, atasan atau bawahan adalah ciri bahwa kita tak menghargai mereka. Mimik muka yang menyebalkan kepada tamu, pengamen, anak jalanan atau guru dan pedagang adalah petunjuk bahwa kita tak menghargai mereka. 

Maka tunggulah saatnya dimana kita akan membayar semuanya, karena hidup ibarat cermin yang memantulkan bayangan. Sedemikian yang kita berikan sedemikian pula yang akan kita terima. Dan karena hidup adalah metafor tetumbuhan yang akan dituai sesuai dengan apa yang telah kita semai.

Lihatlah anak-anak yang tumbuh di dalam keluarga yang terbiasa saling menghargai, mereka akan membawa-bawa nilai itu kemanapun mereka pergi dan berada. Entah di rumahnya, entah di sekolahnya, entah di mana saja. Entah di dalam negerinya entahpun di mancanegara. Entah di alam nyata entahpun di dunia maya. Nilai yang ditanam orang tua dan lingkungannya di rumah akan diusungnya ke manapun tempat ia menghadirinya. 

Apakah hal yang perlu dihargai itu ? Untuk siapakah penghargaan itu perlu disampaikan ? Jawabnya adalah; Seberapa banyak kita ingin dihargai, maka sebesar itu pula kita selayaknya menghargai orang lain. 


  1. Perbedaan, biasanya perbedaan (dalam bentuk apapun) acapkali membuka ruang bagi orang yang tidak pandai menghargai orang lain untuk menjadikannya benih pertikaian. Perbedaan pendapat, perbedaan suku, perbedaan agama, perbedaan pandangan politik, perbedaan kelompok, perbedaan partai, perbedaan kebangsaan, perbedaan ras dan sebagainya. Berapa banyak negara dan masyarakatnya yang terpecah belah dan saling bermusuhan karena masalah politik, karena pertikaian antar agama, karena perdebatan suatu masalah dan lain-lain. 
  2. Kemerdekaan, biasanya merasa merdeka, merasa bebas atas haknya pun kerap membentang kawasan bagi orang yang tidak senang menghargai orang lain untuk menjadikannya bibit pertengkaran. Merdeka berpendapat, merdeka berkespresi, merdeka bersikap, merdeka bertindak. Semua bermula dari kurangnya penghormatan atas hak orang / pihak lain. Berapa banyak terjadi kerusuhan hanya karena seseorang atau sekelompok orang merasa bebas dan berhak menguasai sesuatu tak peduli walaupun hal itu mengusik kemerdekaan dan kebebasan orang lain. Berapa besar kehancuran alam terjadi akibat dari hilangnya penghargaan manusia kepada alam, merasa bebas merdeka membabat dan membakar hutan, merasa leluasa membangun perumahan dan pertokoan, merasa langgas membuang sampah di sungai-sungai ataupun sembarang ruang.

Sungguh, tak terkirakan pentingnya menghargai apapun dan siapapun dalam kehidupan. Tanpa kita sadari kita memetik dan menuai kasih sayang orang lain dan kehormatan diri dari penghargaan kita selama hidup atas mereka.

Seberapa besar penghargaan  kita atas mereka maka sebesar itu pula kehormatan yang akan kita dapatkan, bahkan lebih,  lebih dan lebih. 

“No one is born hating another person because of his skin, or his background, or his religion. People learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love. For love comes more naturally to the human heart than its opposite.”

Nelson Mandela – Long Journey to The Freedom


Tulisan ini diikutsertakan pada Sodexo blog contest yang disupport Voucher Belanja Sodexo dan Merchant Sodexo