Thursday, May 2, 2019

Cemburu

Citra rebah, dalam sengal nafas yang lelah.  Binar matanya memandang langit-langit kamarnya yang putih. Sunyi.

Dicobanya rileks, sejenak saja. Bagaimanapun berjalan kesana kemari  di pameran kerajinan Indonesia sesiangan tadi dengan high heels 10 cm-nya bukanlah hal yang ringan. Apalagi harus disambi memberikan presentasi ringan pada para pengunjungnya yang tak henti-hentinya berdatangan dan kepo dengan karya-karya seni yang ditampilkan.

Tuesday, April 30, 2019

Tentang Lagu

Lagu itu ...
Ahh lagu itu... 

Aku hampir tak percaya mendengarnya di sini. Di teras belakang sebuah mall yang menghadap lepas pantai Kuta, Bali.

Saturday, April 6, 2019

Semeleh

◎Semeleh Tanda Hidup Seseorang Mendapat Berkah Allah ◎

Perjalanan ke sebuah pesantren di Jawa Timur sana meninggalkan banyak sekali kesan mendalam. Salah satunya adalah kesadaran bahwa betapa kayanya bangsa ini dengan ragam bahasa, dalam hal ini bahasa Jawa.

Mendengar Sang Kyai menyampaikan taujihnya dengan silih berganti menggunakan antara bahasa Indonesia dan Jawa, namun saya dan sepertinya kebanyakan jama'ah menerima limpahan kata Pak Kyai sebagai bahasa rasa.

Thursday, March 21, 2019

Sedia Mebo Sebelum Luka Bakar


Tersenggol pinggiran setrika panas atau terpercik minyak goreng panas waktu sedang menggoreng ikan sudah jadi hal biasa buat saya di rumah.

Bahkan saat anak-anak masih kecil, ada saja insiden yang berkaitan dengan mereka dan luka bakar. Entah karena terkena knalpot motor ayahnya yang masih panas atau menyentuh peralatan yang panas lainnya.

Ada kejadian yang sampai sekarang saya sesali Dan selalu membuat sedih, yaitu waktu Zahra masih berumur sekitar 2 tahun, tanpa saya sadari karena sedang melipat pakaian yang baru disetrika,  Zahra memegang permukaan setrika yang masih panas walaupun sudah dicabut kabelnya tapi masih dalam keadaan panas hingga punggung telapak tangannya luka bakar.

Saat itu saya tidak sedia obat luka bakar di rumah, jadi menyiram tangan Zahra segera dengan air dingin di wastafel untuk menghentikan penyebaran panasnya lalu mengoleskan pasta gigi sebagai pertolongan pertama.

Apakah luka bakar Zahra sembuh karena pasta gigi itu? Tidak sodara-sodara. Baru sembuh setelah menggunakan obat dari dokter. Tapi walaupun sudah sembuh, luka bakar itu tetap meninggalkan bekas sampai Zahra remaja karena penanganan yang salah di saat awal.

Pada acara "Talkshow : Aksi Nyata Untuk Luka Bakar Anda" yang diselenggarakan di Watsons Mall Margo City Depok tanggal 17 Maret 2019 yang lalu dengan narasumber dr. Aryanto Habibie Sp.BP-RE dan Brand Manager Combiphar, Yosephine Caroline saya dan peserta lain mendapat penjelasan tentang penanganan luka bakar yang benar terutama di saat awal setelah kecelakaan terjadi.

Yang terpenting dari acara Talkshow itu kita jangan sampai mencoba mengobati luka bakar dengan cara yang ternyata cuma mitos seperti misalnya menggunakan tepung, kecap, mentega, atau pasta gigi seperti saya. Karena walaupun ada efek mendinginkan sementara tapi tetap saja, bahan-bahan tadi tidak bisa menyembuhkan luka bakar karena memang tidak diperuntukkan untuk itu.

Tentang luka bakar ini ternyata nggak main-main ya. Badan Kesehatan Dunia (WHO)  mencatat bahwa di Indonesia 195.000 jiwa meninggal dunia setiap tahun karena luka bakar.

Kebanyakan luka bakar terjadi karena kecelakaan/cedera yang tidak disengaja (unintentional injury) seperti yang terjadi pada saya dan anak-anak di rumah.

Anak-anak balita memang kelompok umur yang paling rentan terkena luka bakar karena mereka belum menyadari bahayanya, itu sebabnya kita para orang tua diwajibkan untuk selalu mendampingi dan mengawasi mereka saat sedang beraktivitas, serta menyiapkan obat luka bakar sebagai respon cepat jika kecelakaan terjadi.

Dalam Talkshow kemarin, dokter bedah plastik dr Aryanto Habibie Sp.BP-RE memperkenalkan Mebo, obat luka bakar dengan 3 (tiga)  bahan herbal yaitu Phellodendri chinensis Coptidis rhizome, Scutellariae radix, Minyak Wijen dan Beeswax.

Mebo adalah salep luka bakar yang sesuai dengan bahan dasarnya yang salah satunya adalah minyak wijen yang mempunyai khasiat menyerap sisa panas pada area luka bakar, sehingga bisa mengurangi tingkat keparahan luka bakar.



Mebo juga mengandung bahan alami tanpa antibiotik kimia yang dapat menyembuhkan dan meminimalisir luka bakar ringan dan luka bakar berat.

Mebo ointment dapat mempercepat penyembuhan luka, meredakan rasa nyeri, dan menyerap sisa panas pada area luka. Mebo ointment membuat area luka menjadi moist/ lembab yang dibutuhkan dalam penyembuhan luka sehingga pemulihan jaringan menjadi lebih cepat dan lebih baik serta meminimalkan potensi terjadinya bekas luka.

Mebo juga memiliki anti-radang dan membantu regenerasi sel (pertumbuhan jaringan baru). Memberikan suasana moist (lembab) pada area luka sehingga mempercepat pemyembuhan luka.

Dalam Minyak Wijen terdapat kandungan β-sitosterol yang berfungsi mengurangi peradangan pada luka bakar seperti adanya pembengkakan, kemerahan, gatal, serta meredakan rasa nyeri. Kandungan lipid serta vitamin E dan K berfungsi sebagai sumber nutrisi yang dibutuhkan untuk sel-sel pada kulit serta menunjang pemulihan jaringan, sehingga mengurangi potensi timbulnya bekas luka.

Mumpung ada di Watsons saya sendiri cepat-cepat membeli Mebo untuk persediaan di kotak P3K Di rumah. Saya ingat kata-kata Ibu Yosephine, bersedia Mebo di rumah itu investasi karena Mebo tahan disimpan di kulkas (jika telah digunakan) selama 3 tahun. Jika dalam 3 tahun itu ada anggota keluarga yang terkena luka bakar, kita sudah punya solusinya.

Istilahnya, sedia Mebo sebelum kena luka bakar.  Nah, kamu sendiri bagaimana ?

Untuk informasi lebih lengkap silakan kunjungi website www.combiphar.com serta akun media sosial Combiphar di Instagram, Facebook dan YouTube








Thursday, October 11, 2018

Suatu Senja di Oktober Kita

Bertemu kamu yang kedua kali setelah  sekian lembar hasrat ternyata bukan hal yang kuresahkan. Cafe yang kutunjuk sebagai tempat pertemuan kitalah yang sempat membuatku kecil hati.

"Kamu gapapa tempatnya disini ? Apa mau pindah? " segera kutanyakan kecemasanku melihat suasana cafe n resto itu tak sesuai dengan performanya selama ini sebagai seorang akademisi sekaligus motivator yang cukup terkenal di wilayah Jawa Tengah dan Timur sana.

"Ndaak. Gapapa. Ini bagus lho." Seringan   itu jawabanmu, terdengar bagiku seperti hanya untuk menutup rasa bersalahku yang memang kurang paham cafe yang bagus dan pas di kota ini untuk tempat kita bertemu.

Kamu segera mempersilakanku duduk di salah satu kursi sofa berlapis kain beludru berwarna hijau pupus itu.

Hingga makanan dan minuman datang,  ku masih merasa belum nyaman menanggapi obrolanmu. Aku mencari sesuatu di matamu yang kuragu apakah berwarna hijau ataukah abu2, tapi tak kutemukan itu.

Saat ku semakin sangsi,  tanganmu menyentuh jemari.  Sejak itu kutahu, kamu ternyata begitu merindu. Dan berikutnya hanyalah 5 jam tak terlupakanku.

Terminal bis itu. Aku tak mengerti untuk apa ada terminal bis di episode hidup kita ? Tapi tempat yang bising, panas dan ramai itu seketika menjadi background yang surga. Para calo dan pengamen itu berorchestra untuk kita.

Ahh masih kuingat bagaimana kamu berada di tempat itu dikerumuni calo penjual tiket dan tak membelinya satupun hanya untuk tetap bersamaku.

Kita berbagi cerita dan tawa sekaligus buah jeruk dan aqua. Sesekali menatap cemas jam tangan yang jarumnya terasa berputar terlalu cepat.

Kamu menungguiku sholat ashar di musholla, persis seperti kamu menungguiku selesai sholat maghrib bertahun-tahun yang lalu. Tak ada yang berubah darimu, kecuali sedikit uban di jambang dekat telingamu. Ya, sedikit uban yang menambah pesona dan kewibaanmu.

Lalu kita menuju mall hanya untuk menghabiskan waktu. Tanganmu tak henti menggenggam jemariku seakan tak ingin melepasku.

Hingga waktu yang telah kita sepakati mengingatkan perpisahan. Dan kecupmu di dahiku, kecupku di tanganmu menjadi salam terakhir di suatu senja Oktober kita. Lalu serupa awan yang dihela angin senja, kita berpisah tanpa suara. Tanpa air mata, namun menyisakan luka.






Saturday, August 25, 2018

Jadikan Yang Kamu Sirikin Gurumu

Lho memang tanda lemah dan fakirnya kita sebagai manusia itu salah satunya cemburu koq. Iri,  dengki, berprasangka buruk,  nggak suka lihat orang lain lebih baik, lebih bagus, lebih cantik, lebih ganteng, lebih keren dsb apalagi kalau yang lebih2 itu saingan kita atau saingan keluarga, atau kelompok kita.  Intinya susah lihat orang lain senang,  senang lihat orang lain susah.

Jadi kalau lihat yang seperti itu gak usah heran atau dipertanyakan karena mungkin kita juga bakal seperti itu kalau...

Kalau kita merasa lebih baik, merasa lebih bisa,  merasa lebih bijaksana, merasa lebih tahu, merasa lebih segalanya (ini sadar ataupun tidak, walaupun banyak nggak sadarnya sih)

Lalu dari merasa2 lebih itu jadinya kita bisa  merasa lebih berhak juga  menerima segala kebagusan, kebaikan, kemuliaan, penghormatan, dan pengakuan.

Padahal sejatinya setiap kita ini apa siy?  Bisanya apa ya kita kalau tidak dibisakan oleh Tuhan. Ngetik saja sering typo, apalagi sampai menganalisis ini itu sing njelimet dan parahnya analisisnya hasil berasumsi bukan dari tabayun yang betul-betul tabayun alias Info valid kelas Ring 1 (ini ngomongin apasih 😁).

Ya pokoknya kita jadi sering membuang buang waktu untuk hal yang kurang penting tapi hasilnya malah merugikan diri sendiri.

Misalnya kita jadi gak bertambah ilmu,  jadi gak bertambah wise, jadi gak bertambah teman (malah nambah daftar akun yang mau di-unfollow apa di-unfriend) Wah ini apalagi ini jadi gak bertambah cantik n bertambah penghasilan #eh. Kan rugi ya kalau setiap peristiwa kita masalahin dan kita julidin ? Kapan bahagianya?

Katanya ya,  ini katanya. Kalau kita lihat ada orang atau fihak lain lebih itu (lebih cantik,  lebih ganteng,  lebih keren,  lebih pinter,  lebih kaya, lebih sukses) mendingan jadikan dia "guru". Tekan serendah-rendahnya ego. Ya namanya mau jadi murid harus mau merendah dong di hadapan guru. Konteksnya merendahkan hati, merendahkan ego, merendahkan keakuan.

Nah kalau sudah merasa "rendah", merasa fakir bakal muncul kemauan kuat buat belajar,  buat mencari tahu, buat berguru. Tentang apapun itu.  Lihat teman cantik, sholeh,  ganteng, keren,  sukses,kaya, dermawan,  bermanfaat buat orang banyak jadi termotivasi. "Eh dia bisa kayak gitu itu gimana ya ?". Nah mulai deh jadinya semangat buat jadi pribadi yang lebih baik.

Gak akan ada cerita cari-cari kekurangan atau kesalahan orang. Masa murid cari kesalahan guru. Guru gitu lho, kan fungsinya buat digugu dan ditiru.

Intinya yang indah,  bagus,  cantik,  keren itu daripada disirikin mending dijadikan guru kehidupan. Biar kita ikutan keren. Gimana? 

#BukanTentangAsianGames  tapi disambungin juga gapapa ding.
#PernikMalam


Jangan Hanya Mau Didengarkan tapi Harus Mau juga Mendengarkan

Jangan Hanya Mau Didengarkan tapi Harus Mau juga Mendengarkan

Paling senang saat Zahra pulang dan cerita pengalamannya menjalani PKKMB dan Student Day di kampusnya tiga hari ini.

Bali dan Udayana sungguh satu  pengalamannya yang luar biasa.

Sepulang kegiatan Student Day 2018 Universitas Udayana :

"Miii, tadi seruuu".

Sebagai mantan remaja ceria era keemasan, pikiranku segera menerjemahkan kata "seru"  itu adalah barisan kakak-kakak tingkat jurusan teknik nan keren tapi galak (galak sepanjang masa opspek aja siy)  berambut gondrong-gondrong yang sering dia ceritakan itu yang akan jadi subjek pembicaraan.

Tapi bukan, ternyata bukan itu.  Matanya berbinar-binar dan bibirnya tak berhenti tersenyum sepanjang bercerita.

Ada Nana dan Try yang orang Bali asli,  ada Dika yang orang Lombok,  ada Christy dari Medan,  ada Bunga dari Tangerang, ada Stephany dari Jember, Altaf dari Jakarta  dll.  Semua nama-nama itu segera menghangatkan hati sebagai biasanya aku mendengar semua sahabat anak-anak.

"Mi,  disini tuh aku seneeng, misalnya pas udah waktunya sholat, aku bilang sama mereka " Eh aku mau sholat dulu yaa. Trus si Try bilang OK, aku juga mau ke Pura dulu ya.  Si Nana yang jagain tas. Duduk aja dia mah kan hari ini dia gak perlu ke gereja.

Aku seneng Mi,  biarpun yang berkerudung cuma aku sama Bunga tapi aku gak merasa dipandang aneh sama mereka.

Aku bisa nanya sama Try makna nama-nama orang Bali dan dengan senang hati dia menjelaskannya. Aku jadi tahu, I itu buat anak laki-laki, Ni itu buat anak perempuan (I Made, Ni Made), atau I jadi Ida itu cowok juga (misal Ida Cokorda), Luh buat perempuan.

Kalau kayak Wayan, Gede, Putu itu buat anak pertama. Anak kedua ada yang pake Made, Nengah atau Kadek. Anak ketiga Komang atau Nyoman.

Terus aku nanya lagi, tapi Try koq namamu pake Dewa Ayu bukan Komang ?"
Jawab Try, "Itu lain lagi Ra. Ada juga nama berdasarkan Kasta. Trus Try sebutin istilah-istilah dalam urutan kasta (yang Zahra udah gak ingat lagi saking banyaknya yang dijelaskan dengan sepenuh hati oleh temannya).

Oya, anak ini gak berhenti cerita selama dia makan.

"Terus aku sama Christy juga saling bertanya Mi. Christy nanya gini :"Ra Kamu orang Sunda kan. Kalau nama-nama khas Sunda itu apa aja sih?  Aku bilang aja Asep, Agus, Cecep, Iwan, Elis,  Euis, Nani, terus apa lagi ya. Gak ada  urutan kelahirannya, sama kasta. Bener kan Mi? Pokoknya gitu deh.  Terus aku juga nanya kalau Christy suku Batak ya. Christy bilang Iya, tapi suku Batak itu ada 6. Nah aku lupa yang 6 itu apa aja Mi"

Ish,  anak ini biasa deh kalau lagi seneng gak mau berhenti cerita 😁

"Terus ya Mi, aku gemeess deh. Lucuuu . Di goodie bag kita tuh beda-beda isinya selain alat tulis dan topi. Di GB-ku ku kan ada mukena, di GB-nya Nana ada Al Kitab, Di punya Try ada selendang. Lucu kan, beda-beda isinya tapi kita akraaab banget. Mereka baik-baik dan suka saling nolong.

Bener ya kata umi sama kata narsum di acara Student Day itu juga,  kita jangan hanya mau didengarkan tapi harus mau mendengarkan. Di kampusku sejak aku masuk dan kenal teman-teman, kami benar-benar saling mendengarkan. Dengar tentang budaya, agama, kebiasaan kita masing-masing. Kita jadi langsung saling sayang Mi." Kata Zahra sambil terus makan.

Aku menatapnya riang, tapi dalam hati sungguh terharu. Alhamdulillah, Zahraku sedang berterima kasih. Bersyukur atas indahnya keberagaman di negeri  yang diciptakan Tuhan penuh warna ini.

Sejak TK hingga SMA dia mengecap pendidikan berbasis Islam sebagai pondasinya, tapi penghargaannya atas perbedaan di sekelilingnya adalah karunia yang kusyukuri. Kelak mungkin dia akan mengarungi dunia yang lebih luas. Kuharap kebijaksanaan dan kebeningan hati akan terus mengiringinya. Semoga Zahra selalu dikelilingi orang-orang yang baik dan sebaliknya selalu menjadi orang yang baik yang mau menaungi orang lain, siapapun itu,  aamiin.

Sepernik percakapan manis di jelang hari kemerdekaan.

Dirgahayu Indonesiaku ❤

Zahra dan teman2 pasca Student Day hari ke 3

Sunday, July 1, 2018

Cinta Tak Terucap Kata

"Inspiratif"

Tiba-tiba sepatah kata muncul di kolom komentar postingan instagramnya. Hanya satu kata,  singkat dan bukan hal yang baru sedang menanggapi caption sebuah foto yang diunggah Ilya kemarin. Namun wanita lembut itu tak dapat menahan debur hatinya saat menatap nama sang penulisnya. 

"Alfian" bisik hatinya. 

Ahh, sekejap ingatannya kembali ke sebuah taman raya di sebuah senja yang gerimis 7 tahun yang lalu. Tempat ia menemukan dua mata nan teduh itu sedang menatapnya penuh rindu. 

Pertemuan dan perbincangan sekilas namun meninggalkan jejak di sudut hatinya   bertahun-tahun. 

Ilya tahu lelaki bermata hujan itu telah mengikuti sosial medianya tujuh minggu yang lalu. Meski tak pernah meninggalkan tanda apapun, namun Ilya yakin Alfian mengawasinya dari kejauhan. Kenangan yang mereka berdua miliki terlalu indah untuk diabaikan, hanya saja dulu tiada sempat dan tempat untuk mengabadikan.

Ilya menghela nafasnya perlahan dan dalam. Diperhatikannya rerintik hujan di balik jendelanya.  Rerintik yang sama yang mengiringi saat Alfian memohon izinnya untuk boleh bertandang ke rumahnya saat itu.  

"Boleh aku main ke rumahmu?"

Fian bertanya dalam nada riang dan senyum itu, senyum yang tak pernah tertinggal di setiap mata mereka bersitatap di sejak awal pertemuan. 

"Iya,  Iya sangat boleh Fian. Bagaimana tidak boleh  jika setiap saat hanya kamu yang ada di pikiranku" 

Suara Ilya bergema di hatinya. Ya hanya di hatinya. Tak sampai ke lisannya. Lidahnya kelu, lengannya tiba-tiba terasa dingin dan kaku.

Tidak,  tidak mungkin ia bisa menerima Alfian di rumahnya. Bahkan di tempat manapun di dunia ini. Ilya terlalu takut. Perempuan berbibir delima itu takut pada garis hidupnya sendiri. Ia sadar ia tak berhak lagi atas segenap cinta lelaki yang tak pernah beranjak dari hatinya itu.

"Kita sudah bertemu, Dan aku tak bisa menemuimu lagi sesudah ini. Maafkan aku Fian"

Fian terpekur menatap horizon yang membentang di hadapan mereka berdua.
Kecewa.  Namun bagaimanapun kuatnya cintanya namun ia bukanlah seorang pemaksa. Ia sungguh tahu dan memahami posisinya sendiri dan kegelisahan Ilya.

Alfian menyadari mereka hanya bagaikan sepasang merpati yang terpisahkan oleh dinding semegah dan sekokoh  takdir.

Kini 7 tahun dari keheningan senja itu, dalam gerimis yang membasahi Yogya dan hati Ilya, sepatah kata di instagramnya telah meluluh lantak seluruh upaya perempuan itu untuk melupa.

Alfian masih ada untuknya, untuk cinta  tak sampai mereka. Namun Ilya lega, menyadari bahwa cinta justru nampak begitu indah saat ia tetap tak terucap kata-kata, tak tergapai rengkuhan raga. Namun terus berkelindan di udara yang mereka hirup bersama, di tempat dimana mereka dinaungi cahaya rembulan dan langit yang serupa.

Bogor, 1 Juli 2018


Friday, June 1, 2018

Hokben Berbagi Kebaikan Bersama Anak Yatim

Ada apa dengan Hokben?  Hokben alias Hoka Hoka Bento yang pada tahun 2013 mengubah nama panjang brand-nya menjadi Hokben ini adalah  kedai makanan Jepang terkenal yang gerainya telah menyebar di berbagai kota di Indonesia ternyata sekarang sudah berusia 33 tahun lho  tepatnya tgl 18 April 2018 yang lalu.

Dan sampai hari ini Hokben  masih berkomitmen memberikan produk dan pelayanan yang terbaik buat semua konsumennya.

Apa itu Hokben yang begitu banyak penggemarnya itu?  Kita kenalan lebih dalam yuk.

Wednesday, May 23, 2018

Entah

Waktu itu sapamu belum usai, dan senyumkupun belum lerai, tapi apa daya gerimis di atas kita nan tiada naungan mulai rinai.

Padahal senja baru saja rebah
Padahal tatap matamu baru saja binar

Aku mencari naungan
Tapi kamu sudah menemukan perlindungan

Belum Ada Judul

BELUM ADA JUDUL

Dua gelas kopi
Aku dirimu berhadapan
kita saling menertawakan pahit
Dan mungkin, dengan rindu ada di antaranya

-DW-

*Puisi seorang sahabat

Thursday, May 17, 2018

Disiplin Positif Melindungi Anak dari kekerasan dan Eksploitasi

Disiplin Positif 

Hai sahabat Goresanku,  apa kabar ? Semoga selalu dalam keadaan yang baik ya.

Kali ini tema Goresanku mengupas tentang issue perlindungan anak,  mengingat masih banyaknya bahkan terasa semakin mengerikan mendengar berbagai kasusnya

Thursday, April 19, 2018

Apresiasi Anak, Bahagiakan Anak



Menjadi seorang Ibu, aku yakin adalah hal ajaib yang menakjubkan bagi siapa saja wanita yang pernah merasakannya.

Diawali dengan memiliki malaikat kecil nan lucu di rumah, kemudian menyadari bahwa memiliki bayi/anak tak cuma sekedar merasa punya, ada tanggung jawab besar mengasuh dan mendidik mereka sebagai refleksi rasa cinta kita

Nah perihal mengasuh dan mendidik ini setiap orang tua tentu punya nilai Dan prinsip  sendiri untuk diterapkan di dalam keluarga sesuai dengan norma dan keyakinan  masing-masing. 

Tapi banyak nilai universal yang baik untuk diterapkan oleh orang tua atas anaknya dimanapun seperti misalnya hal-hal yang terkait kebersamaan dengan anak terutama di masa-masa anak-anak berusia balita hingga remaja.  

Sunday, April 1, 2018

Tips Membuat Pakaian Wangi Sepanjang Hari




Menjadi seorang perempuan dengan segala perannya dan di usia serta level sosial apapun buat saya nampak sebagai sesuatu yang menyenangkan. Begitu menyenangkannya hingga banyak kebiasaan-kebiasaan lama yang dimulai dari sejak masa remaja terus terbawa hingga saat sekarang, salah satunya adalah merawat dan menghias diri sebagai sesuatu hobi yang "cewek banget" kata orang. 

Berpenampilan rapi dan cantik dimanapun berada (meskipun di dalam rumah) dan diusahakan kapanpun waktunya (meskipun malam hari dan sebentar lagi mau bobo') merupakan kesenangan tersendiri buat saya. Rasanya gak nyaman aja kalau terasa nampak lusuh atau kusam di mata suami dan anak-anak, apalagi kalau sampai tercium bau yang tak menyenangkan gara-gara keringat. 

Thursday, March 8, 2018

Sweat Challenge di Allianz Ecopark


Setiap hari, saya selalu menjadwalkan diri buat olah raga biarpun ringan. Kalau sedang gak bisa jogging di luar, saya manfaatkan alat jogging sederhana di rumah atau melakukan gerakan yoga standar yang nggak lain tujuannya kecuali supaya badan ini bergerak (tentu gerakan yang teratur ya) supaya metabolisme tubuh tetap baik, apalagi di usia sekarang yang makin butuh maintenance yang lebih baik lagi.