Saturday, November 23, 2019

Sesederhana Senja




Tiba-tiba Rendra mengeluarkan sesuatu dari plastik yang sejak awal bertemu tadi dibawanya. Ya sejak dia membeli tiket bioskop, dan menunggu Ratri datang, sampai mereka menikmati film selama 2 jam, sampai mereka sholat ashar bersama  di mushola dan sampai mereka tiba di tengah percakapan di bawah tenda penjual laksa yang mereka santap bersama, plastik berisi sesuatu itu terus dalam penjagaannya.


Ratri memperhatikan bibir Rendra yang terus tersenyum dan tangannya yang mengulurkan sesuatu berbungkus kertas berwarna merah jambu ke arahnya.

"Ini buat kamu. Bukanya di rumah ya".

Ratri terpana, matanya beralih bergantian, kepada Rendra dan kotak pink di meja, kepada kotak di meja, lalu kepada Rendra.

"Apa ini Rendra?  Kamu kasih aku gift? "

Rendra hanya tersenyum menatap wanita yang diam-diam disayanginya di hadapannya. Ucapnya :

"Sesuatu yang kamu suka"

Terlontar begitu saja dari bibirnya kemudian hati Rendra menyesalinya. No, maksudku biasanya kamu suka itu,  so aku cari yang relate dengan itu, mudah-mudahan kamu suka Ratri, bisik hatinya.

Tapi Ratri memang tak sembunyikan rasa sukanya, dia tak peduli romantisme yang sedang dibangun Rendra, dengan rasa penasaran ia menebak.

"Mm kopi ?" matanya berbinar menebak misteri di kotak merah jambu.

Rendra tertawa kecil, matanya memandang ke atas plafon  dengan mimik menggoda.

"Hahaha mmm yaa bisa, tapi ada yang lainnya".

Ratri mengernyitkan dahinya, lupa bahwa Rendra hendak memberi surprise kepadanya di dalam hadiahnya.

"Duh apa ya?  Cluenya dong? "

Rendra terbahak, dan menggelengkan kepalanya.

Ratri terus mencecar lelaki itu :

"Kamu bikin sendiri? " Ratri coba menyambung-nyambungkan dengan hobi Rendra yang seorang seniman.

Rendra tersenyum dan hanya menjawab :

"Nggaak, beli koq beli. Nanti deh, bukanya di rumah aja ya" pinta Rendra lembut.

Ratri menyunggingkan senyumnya dalam haru, entah kali keberapa Rendra memberinya kejutan sejak mereka kenal 3 tahun yang lalu hingga sekarang. Ia tak pernah  berekspektasi apapun.

Rendra dan semua kisah kebersamaan mereka dirasanya sudah melimpahinya. Tak terpikir apapun lagi  yang melebihinya, apalagi segenap pemberian Rendra yang selalu diterimanya. Tidak, tak berani Ratri mengharapkannya.

Tapi Rendra adalah jawaban doa-doanya, mungkin Tuhan sedang ingin memanjakannya melalui laki-laki sederhana dan manis itu.

"Iya,  makasih ya. Kamu baik banget"

Hanya kalimat klise itu yang mampu Ratri ucapkan, jauh dari gempita hatinya yang sorak sorai. Bukan, bukan membayangkan isi kadonya, Ratri hanya riang menerka-nerka apa yang tengah terjadi di hati Rendra.

Dua merpati itu menyusuri jalan perlahan  dalam naungan udara sore nan teduh. Mengomentari pemandangan remeh di sekeliling tapi entah mengapa setiap perniknya terasa jadi penting.

Ratri tak tahu, sebagaimana Rendra pun tak tahu kemana arah perahu kecil mereka menuju. Yang kedua merpati ini tahu sederhana saja. Sesederhana senja mereka.
Merasa bahagia saat bersama.






No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah singgah di Goresanku ya ^_^