Monday, November 4, 2019

A Cup of Fore

"Mbak Rani mau kopi Fore gak ? Kutraktir ya,  Ada kupon soalnya  hehe"

Tiba-tiba pesan muncul dari messenger  di HP Maharani. Oh dia lagi. Samudra Fariz, Pemuda yang selama 3 tahun ini berteman di sosmednya yang tanpa disadarinya telah  secara rutin selalu mengirimnya pesan random di messengernya yang kadang Maharani balas  hanya dengan ucap terima kasih saja.

Isi message Samudra memang tak jauh-jauh dari  hanya sharing flyer promo makanan atau minuman, atau sekadar sapaan sederhana menanggapi facebook story-nya.



Maharani tersenyum membaca pesan  pendek itu. Sedikit tak percaya, barusan Samudra mengajaknya ketemuan ?.
"Hmm gentleman juga ni orang" bisik hatinya .

Tak sedikit lelaki yang berkenalan di sosial media berani menyatakan cinta dan rindunya, berani merayu-rayunya  tapi tak berani menemuinya.

Samudra berbeda. Pemuda itu tak pernah kurang ajar. Memperlakukan Maharani di chat room dengan sopan. Meski begitu Maharani tahu, lelaki yang terpaut usia jauh di bawahnya ini adalah secret admirer-nya. Di setiap ulang tahunnya selalu memberikan kreasi-kreasi unik yang Maharani acap menganggapnya sebagai kado yang lucu.

Entah angin apa hari itu Samudra tiba-tiba mengiriminya kembali pesan. Sederhana memang, hanya ajakan mentraktirnya kopi, itupun karena pemuda itu punya kupon gratis ? Maharani tertawa geli. Diam-diam ia mulai mengagumi kejujuran cowok nekat ini.

"Kamu mau traktir aku kopi ni ceritanya? " Maharani coba bertanya untuk memastikan asumsinya.

"Iyaa 😃 bisa ya.  Di mall ****** " Samudra menyebut nama mall besar di kota mereka.

Rani semangat membalas cepat chatnya :
"Hahaha, boleh"

"OK deal ya"

Maharani menutup chat roomnya. Mata sayunya memandangi pantulan wajahnya nan anggun di meja riasnya. Selama ini ia tak mengacuhkan Samudra, tapi ia excited bisa bertemu dengan pemuda itu. Pada dasarnya Maharani senang bertemu orang-orang baru. Sisi lain dirinya yang pendiam dan pemalu.

.....

Maharani mengibas-ngibas rok tutu berwarna hitamnya yang basah. Ia agak menyesal membuat janji di sore hari mengingat belakangan ini sudah memasuki musim hujan.

Tapi ia bersyukur Samudra barusan mengirim kabar masih terjebak hujan di jalan dan berteduh. Itu artinya memberikan Maharani waktu untuk mengeringkan bajunya yang sedikit basah dan merapikan kerudungnya.

Tak sampai 15 menit hujan mulai mereda, Maharani mencuri kesempatan berjalan-jalan sebentar di sekitar Mall kesayanganya saat smartphonenya berbunyi dan membaca pesan dari Samudra.

"Kamu dimana? "

Tiba-tiba ada denyar di hati Maharani sesaat setelah membaca pertanyaan lelaki itu. Biasanya Samudra selalu memanggilnya mbak Rani. Tidak kurang, tidak juga lebih. Tak pernah juga berkamu-kamu. Kali itu message singkatnya mampu membuat Maharani tergetar sekian detik. Kenapa yang semula merasa akan bertemu sahabat pena berubah seolah akan bertemu kekasih hati?

"Ahh baperan mulu kamu Ran" Maharani menepis pikiran naive-nya Dan segera membalas message-nya.

"Aku di ground floor deket Watch Palace"

Samudra tak membalas lagi pesannya,  pasti ia tengah mencarinya. Maharani memutuskan untuk diam di tempatnya berdiri, menunggu dalam rasa penasaran seperti apakah rupa pemuda yang selalu menutup wajahnya dengan masker setiap kali upload foto-fotonya di sosmed itu? . Yang Maharani tahu, Samudra pernah berkata tinggi badannya 185 cm.  Kini,  matanya yang rembulan mencari-cari pria berpostur tinggi diantara lalu lalang manusia di mall itu.

.....

Samudra sudah di lantai atas,  ia mengira Maharani menunggunya di sana. Rasa bersalahnya terbit karena sudah membiarkan perempuan yang sudah lama didambakan setiap kemunculannya di facebook itu di kencan pertama mereka menunggunya, gara-gara terjebak hujan.

Samudra setengah berlari menuruni tangga escalator, dan melewati beberapa orang yang searah maupun berpapasan dengan hati masih  tak menentu. Di toilet tadi tak terhitung berapa kali pemuda ini memperbaiki rambutnya yang dibiarkan gondrong. Baru kali itu ia menyesal tak suka cukur rambut dengan potongan normal sebagaimana lelaki-lelaki dandy biasanya.

Tiba-tiba dari jauh ia melihat sosok yang familiar tengah berdiri di samping luar  sebuah store jam tangan mewah. Anggun cantik dibalut gaun hitam dan kerudung coklatnya. Kepalanya celingukan seolah mencari-cari seseorang.

Samudra memperlambat langkahnya sambil berusaha melipur dadanya yang tiba-tiba berdetak lebih kencang. Maharani yang selama ini ada dalam layar gadget dan pikirannya semakin dekat.

.....

Maharani menoleh ke arah belakang, sekala saat matanya melihat sosok tinggi berjacket panjang hingga hampir menyentuh lututnya. Sosok seseorang pemuda dengan potongan rambut ala Kevin Aprilio. Segera Maharani mengenalinya, namun ia ragu karena di FBnya pemuda itu selalu menutup wajahnya dengan masker setiap kali upload foto-fotonya. Yang Maharani tahu Samudra pernah berkata tinggi badannya 185 cm.

Tapi keraguan itu segera sirna manakala Samudra menganggukkan kepalanya dari kejauhan menjawab isyarat tanya Maharani yang juga menganggukkan kepalanya dengan mata bertanya.

"Hai... Maaf ya udah buat menunggu"

Samudra mengulurkan tangannya dan merasakan jemari Maharani menyambutnya lembut. Keduanya bersitatap dalam rasa yang entah, hanya saling tersenyum ramah.

"Keujanan ya? " Maharani mencoba membuat cair suasana walaupun ia tak melihat sedikitpun rambut Samudra yang gondrong itu basah.

Samudra tertawa kecil dan mengiyakan pertanyaan Maharani sambil mengajaknya ke lantai atas. Dan bagi mereka berdua mall ini sudah tak asing,  sudah sama mengerti ke escalator mana keduanya harus menuju.

Masih beriring gugup Samudra coba menyesuaikan langkahnya agar tak mendahului ataupun berada di belakang Maharani. Tetapi Maharani pun masih merasa canggung, entah harus melangkah duluan ke anak tangga escalator atau menunggu Samudra. Aih betapa awkwardnya.

Di counter Fore Samudra segera memesan kopi mereka.  Sementara Samudra memesan, Maharani memperhatikan sosok lelaki  itu dari belakang. Sederhana namun modis.  Dengan jacket besar berwarna hijau navy, kaus hitam dan celana jeans serta gesture yang santun dan ramah, membuat fakta Samudra lain dari bayangan Maharani sebelumnya.

Sambil menunggu hingga pesanan datang mereka saling melempar tanya dan jawab. Saling tertawa.  Saling tersenyum. Berdua mencari tempat berbincang yang nyaman.

"Nah disitu" tunjuk Maharani melihat sebuah bangku food court yang siap ditinggalkan sekelompok Ibu-ibu telah usai makan,  di tengah-tengah ratusan meja dan bangku lain yang padat terisi pengunjung.

Samudra bertanya dengan sopan kepada salah seorang Ibu apakah beliau sudah selesai dan si Ibu mempersilakan. Menjinjing paper bag berisi cup of coffee dan meletakkannya di meja Maharani dan Samudrapun duduk berhadapan.

Entah luap kebahagiaan atau rasa lega yang harus Samudra tahan saat pada akhirnya mereka sudah sama-sama duduk dan saling berhadapan. Sampai Maharani memecah keheningan dengan banyak pertanyaan dan juga cerita-cerita yang kadang lucu kadang menyedihkan. Hingga tenggelam dalam lautan percakapan yang Samudra  tak lagi pedulikan sekeliling. Seakan mall dan dunia ini sepi. Yang ada hanya mimik muka Maharani yang berubah-ubah, renung alis dan matanya yang ekspresif serta gerakan bibirnya yang lucu dan menggemaskan.

Samudra hanya  terpaku di kursinya, tak menduga bisa memandang sebuah konser tak ternilai di depan matanya hanya dengan segelas kopi. Sampai adzan maghrib tiba, Samudra melihat dengan cemas saat Maharani memeriksa jam tangannya.

"Aku harus pulang. Makasih ya udah traktir aku.

Samudra hanya bisa mengiyakan pasrah. Padahal ia masih ingin mengajak Maharani makan. Padahal ia masih ingin mengajak Maharani berbincang. Padahal ia masih ingin menatap kerling mata kejora itu, menyaksikan senyum manisnya, mendengarkan suara merdunya.

Keduanya menuruni tangga escalator dengan hati sedikit patah, memanfaatkan detik yang tersisa dengan bahasan receh.

Hingga di persimpangan Samudra menuju masjid dan Maharani menuju pintu keluar, keduanya saling menjabat jemari. Berpisah untuk waktu yang entah. Sedih, bahagia, sudah rindu lagi.






No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah singgah di Goresanku ya ^_^