Wednesday, October 25, 2017

Mendidik Anak dengan Cinta


Jika ditanya siapa yang menyayangi anaknya, hampir semua orang tua tentu mengaku menyayangi anaknya, jika ditanya siapa yang inginkan yang terbaik untuk anaknya, hampir semua orang orang tua merasa telah berikan yang terbaik untuk buah hatinya. 


Tapi terkadang tanpa disadari pengakuan dan perasaan itu bertolak belakang dengan kenyataannya. Dalam ilmu parenting, kita sering menjumpai ternyata banyak hal yang harus dibenahi dalam pola asuh dan didik kita sebagai orang tua. 



Dalam kesempatan pameran pendidikan tahunan 'Sunlife Edufair 2017' yang diselenggarakan selama 3 hari mulai 20-22 Oktober 2017 di Kota Kasablanka, Jakarta, pakar pendidikan anak legendaris Dr. Seto Mulyadi Psi. MSi atau yang selalu dipanggil Kak Seto, membahas tema yang penting ini dengan tajuk 'Mendidik dengan Cinta'.

Dr. Seto Mulyadi S.Psi MSi


Mendidik dengan Cinta




Bicara tentang mendidik anak, ia tak cuma perkara mengajarkan sesuatu hal kepada anak agar bertambah kemampuannya dalam bidang yang diajarkan tersebut, tapi ia juga bicara latar belakang dan tujuan si pendidik, bicara tentang cara, bicara tentang respon dan dampak samping, dan tentu saja bicara tentang hasil akhirnya. Di luar semua itu, bicara mendidik anak tak terbatasi oleh ruang dan waktu. Selamanya, sebagai orang tua akan selalu merasa terpanggil untuk mengantarkan anak sampai pada akhir yang terbaik.

Pendidikan berkaitan dengan harapan orang tua untuk mencerdaskan anak-anaknya tapi kadang kita sering salah memahami tentang kecerdasan itu sendiri. 

Banyak orang tua yang menjejali anaknya dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan sejak usia dini dengan harapan si anak akan memiliki kecerdasan yang lebih namun tanpa menyadari hal itu berpotensi membuat anak merasa tertekan, kelelahan secara fisik dan mental. 

Saya ingat beberapa pengaduan teman yang dahulu diperlakukan kurang enak oleh pengajarnya baik oleh kalangan guru maupun orang tuanya sendiri, bagaimana mereka dibentak atau dikomentari dengan kata-kata dan nada bicara yang tak enak oleh ortu/gurunya jika belum mengerti dengan yang sedang diajarkan. Bagaimana mereka dikatai "bodoh' atau istilah-istilah lain yang merendahkan. Sayangnya semua itu dilakukan banyak orang tua (semoga tidak termasuk kita) demi agar anak menjadi 'cerdas'. 

Menurut Kak Seto, pada dasarnya semua anak itu cerdas. Hal yang tak semua kita lihat, karena kebanyakan orang tua menilai kecerdasan hanya diukur dari seberapa mampu anak memahami pelajaran matematika, ilmu pengetahuan alam, bahasa dsb. 

Padahal, spektrum kecerdasan anak itu luas. Ada 4 kecerdasan yang dimiliki setiap orang :

  1. Kecerdasan Sosial
  2. Kecerdasan Emosional
  3. Kecerdasan Moral

Anak yang dianggap tak cerdas dalam bidang tertentu bukan berarti ia tak cerdas dalam bidang lainnya. Ada anak yang cerdas dalam bidang study empiris, ada yang cerdas di bidang musik, ada yang cerdas di bidang olah raga, ada yang cerdas di bidang olah suara, ada yang cerdas di bidang olah masakan dll.

Anak yang cerdas di bidang empirispun terpilah lagi. Bisa jadi ia pintar Matematika tapi belum tentu ia menguasai pelajaran Kimia. Anak yang pandai memainkan alat musik gitar, belum tentu iapun menguasai alat musik biola. Anak yang jago basket, belum tentu senang dan bisa sepak bola.

Banyak anak yang dilabeli kata 'bodoh', 'malas', 'nakal', 'gak nurut orang tua' hanya karena tak menguasai sesuatu bidang, padahal semua anak pada dasarnya adalah pribadi-pribadi pembelajar. Ini dikaruniakan Tuhan bahkan sejak mereka masih berada dalam kandungan. 

Namun karena ketidak pahaman banyak orang tua yang terburu-buru, terus menjejali anaknya dengan hal-hal yang tak mereka sukai. 

Memaksa anak mempelajari apa yang tak disukainya akan membuatnya merasa tertekan, apa yang bisa kita harapkan dari orang yang merasa tertekan ?

Kurikulum pendidikan yang ada saat ini menurut Kak Seto pun belum berpihak kepada anak. Anak dibebani dengan berbagai tuntutan dan tugas yang mengancam kesehatan fisik dan mentalnya. Pelajaran-pelajaran berikut tugas kelompok serta pekerjaan rumah yang bertumpuk membuat anak tak punya waktu lagi untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga bahlan untuk sekedar rehat. 

Apalagi jika tekanan ini tak hanya datang dari orang tuanya, kadang beberapa anak juga harus menghadapi masalah dari gurunya atau teman-teman yang mem-bully-nya. Sayangnya menurut Kak Seto sebanyak 60 % orang tua lebih peduli pada prestasi akademi anak.

Banyak sekali dampak negatif dari cara mendidik yang kurang tepat seperti telah disebutkan diatas, yaitu :

  1. Anak sering merasa gelisah dan cemas
  2. Anak merasa rendah diri
  3. Malas belajar
  4. Mudah panik
  5. Mudah berputus asa
  6. Agresif
  7. Anak menjadi pelaku bullying atau sebaliknya menjadi korban bullying

Anak bukan orang tua mini yang bisa diperlakukan sekehendak kita, maka jangan mudah memarahi mereka jika mereka belum sesuai dengan yang diharapkan dalam proses belajarnya. Berikan penghargaan yang baik apapun pencapaian mereka.

Penting untuk diketahui bahwa anak membutuhkan suasana belajar yang menyenangkan. Suasana yang menyenangkan akan membuat anak lebih termotivasi untuk belajar, lebih bersemangat, lebih tak mudah menyerah.

Untuk menyenangkan anak dalam proses belajarnya, tak terbatasi ruang dan waktu. Belajar bisa dimana saja, kapan saja. Belajarpun begitu banyak bentuknya, metodanya.

Kak Seto menjelaskan beberapa point yang akan membantu kita mendidik anak secara efektif, diantaranya adalah :

  1. Belajar dengan cara yang mengandung hiburan
  2. Belajar dalam bentuk permainan 
  3. Belajar dengan menggunakan kekuatan warna karena anak-anak cenderung visual. Cepat bereaksi dengan segala hal yang warna-warni
  4. Mengajak anak selalu berpikir positif 
  5. Mengupayakan agar kondisi tubuh maupun emosi anak selalu dalam keadaan fit (sehat)


Kak Seto juga memberikan beberapa tips kepada orang tua cara jitu menghadapi anak, diantaranya adalah :

1. Komitmen yang kuat
2. ‎Kompak dengan mitra
3. ‎Peduli pada hak anak
4. ‎Konsisten
5. ‎Kreatif

Menurut Kak Seto sebagai pendidik yang profesional, orang tua harus siap menjadi aktris / aktor kawakan, misalnya pada saat mendongeng. Saat mendongeng, diperlukan penggambaran ekspresi tokoh yang jelas, sehingga anak bisa memahaminya dan kalau bisa nilai tambahnya mereka merasa terhibur.



Dan lebih dari itu semua, yang terpenting dari mendidik anak dengan cinta ini adalah teladan orang tua serta suasana rumah yang penuh kasih sayang. Teladan dalam kehidupan nyata yang disaksikan langsung oleh anak ribuan kali lebih bernilai dari kata-kata dan teori manapun. Dari sinilah pendidikan karakter terbina. Pendidikan memang sejatinya bermula di dalam keluarga. Keluargalah sekolah pertama yang membentuk karakter mereka. 

Maka sangat dibutuhkan kesabaran dari orang tua dalam membimbing mereka karena anak adalah peniru ulung. Apa yang mereka lihat dan dengar orang tua ucapkan dan lakukan akan tersimpan dalam benak dan hatinya, dan itulah yang tersemai di dalam dirinya yang akan dibawanya kemana-mana.



 Seorang aktor dari negeri Tiongkok sana mengungkapkan kalimat bijaknya yang mungkin ia dapatkan sebagai hikmahnya setelah bertahun-tahun selalu memerankan sebagai seorang petarung di dalam film-filmnya, yaitu :

 "Ternyata senjata yang paling ampuh itu adalah senyuman dan kekuatan yang paling besar itu adalah cinta" 
 ‎(Jet Lee) 


Sunlife Edufair 2017




Pameran Sunlife Edufair 2017 yang dilaksanakan di Gedung Kokas ini menghadirkan 20 sekolah formal dan 5 sekolah non-formal terbaik sewilayah Jabodetabek, orang tua, pakar pendidikan, serta ahli perencanaan keuangan dari Sunlife yang bertujuan membantu orang tua merencanakan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya.

Dalam pameran ini Sun Life meluncurkan portal informasi Bright Education  sebagai referensi pendidikan dan perencanaan keuangan jangka panjang untuk keluarga Indonesia

Pameran edukatif tahunan inipun dimaksudkan untuk membantu keluarga Indonesia mendapatkan informasi lengkap seputar pendidikan anak. 

Elin Waty, Presiden Direktur Sun Life, mengatakan, “Sun Life Edufair 2017 merupakan wujud nyata komitmen serta kontribusi kami dalam mengedukasi masyarakat akan pentingnya memiliki perencanaan keuangan terutama untuk memenuhi kebutuhan dana pendidikan yang terus meningkat setiap tahunnya. 

Berdasarkan data IPSOS (The Value of Education, Higher and Higher, 2017) keluarga Indonesia menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama untuk meraih kesuksesan anak. Begitu pentingnya peran pendidikan, hingga sebanyak 86% orang tua di Indonesia lebih memilih mengorbankan tabungan pensiun untuk pendidikan anak-anak mereka. Hal itu didukung dengan fakta lebih dari 70% orang tua di Indonesia masih mengandalkan pendapatan bulanan untuk biaya pendidikan anak dan seperempatnya mengaku tidak memiliki referensi tentang besarnya dana pendidikan yang harus dialokasikan. 

Melalui Sun Life Edufair 2017,  berharap pemahaman mengenai perkembangan dunia pendidikan akan terus meningkat dan semakin banyak keluarga Indonesia yang sadar untuk mulai menyusun perencanaan keuangan yang tepat untuk pendidikan anak.”  

Dari acara ini, masyarakat sebenarnya berkesempatan menggali informasi lebih dalam dari pakar pendidikan, misalnya mengenai pola asuh anak di era digital, serta tren pendidikan yang mampu meningkatkan potensi dan daya saing anak. 

Terutama di era digital seperti sekarang ini banyak hal yang berperan penting untuk menambah wawasan anak dengan mencoba berbagai hal baru yang sesuai dengan minat dan aspirasi mereka. 

Untuk tujuan ini, Sun Life menghadirkan juga sekolah-sekolah non-formal, seperti sekolah musik, seni, robotik, coding, fotografi, jurnalistik, bahkan sekolah boga, sebagai referensi bagi keluarga Indonesia dalam membantu mengembangkan potensi anak. 

“Sun Life Edufair 2017 menjadi momentum yang tepat untuk membangun perspektif terutama bagi generasi muda yang tumbuh di era digital. Perspektif baru ini penting karena memiliki implikasi pada perencanaan keuangan yang sesuai dengan pendidikan yang akan ditempuh. Dengan cara pandang baru yang sesuai dengan perubahan zaman, orang tua di Indonesia diharapkan mampu mempersiapkan perencanaan keuangan yang tepat untuk mendukung keberlangsungan pendidikan putra-putrinya tanpa harus mengorbankan prioritas-prioritas lain seperti yang saat ini masih terjadi,” tutur Elin Waty.



Portal Bright Education dilengkapi dengan fitur-fitur bermanfaat, yaitu:

  1. Fitur Sekolah informasi lengkap tentang sekolah-sekolah yang berpartisipasi dalam Sun Life Edufair 2017. Informasi tersebut meliputi lokasi, kurikulum, fasilitas di lingkungan sekolah, kegiatan ekstra-kurikuler yang dapat diikuti oleh siswa-siswi, penghargaan yang berhasil diraih oleh sekolah, administrasi, hingga testimoni tentang sekolah dari siswa-siswi dan orang tua.
  2. ‎Fitur Perbandingan/Komparasi melalui fitur ini, orang tua dapat membandingkan sekolah yang diminati dengan cara mudah, dengan memilih tingkat pendidikan, lokasi, nama sekolah, dan mengisi data pribadi. Selanjutnya akan keluar hasil perbandingan secara lengkap yang membantu orang tua menentukan pilihan sekolah yang sesuai
  3. Fitur Kalkulator membantu orang tua memproyeksikan dana pendidikan yang dibutuhkan serta menyusun perencanaan keuangan sejak dini.
  4. ‎Fitur Artikel sajian berbagai informasi dan tips menarik seputar dunia pendidikan, anak, dan perencanaan keuangan. 
Partisipan di Sunlife Edufair 2017
Doc. Caroline Adenan

Suasana pameran edukasi Sunlife Edufair 2017
Doc. Astari Ratnadya


Beberapa booth sekolah-sekolah yang berpartisipasi


Penghargaan kepada perwakilan-perwakilan dari sekolah yang berpartisipasi di Sunlife Edufair 2017

Bloggers
Doc. Echa Imut Tenan


2 comments:

  1. Wahhh ketemu juga sama quote ini..

    "Ternyata senjata yang paling ampuh itu adalah senyuman dan kekuatan yang paling besar itu adalah cinta"
    ‎(Jet Lee)

    kereenn ih..

    ReplyDelete
  2. Kak Seto memang teladan pembicara parenting Keluarga Indonesia. Saya menulis di blog saya bahwa cara kak Seto dalam menyampaikan materi saat menjadi pembicara Hak anak untuk dapat mengikuti situasi tetep terpelihara.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah singgah di Goresanku ya ^_^