Friday, May 12, 2017

7 Cara Agar Anak Lebih Berani Bicara



7 cara agar anak lebih berani bicara - Dulu,  sekitar 7 tahunan yang lalu, saat Zahra putri sulungku masih berusia sekitar 9 tahun dan duduk di kelas 4 SD sering merasa tertekan oleh perlakuan sebagian teman perempuannya di sekolah.

Dari mulai suka dipaksa duduk dan disuruh megang alat tulis teman laki-laki di sekolah yang Zahra gak suka sampai sembunyikan tas sekolah Zahra ke kelas lain bikin Zahra kebingungan cari tasnya. Waktu kasus tasnya disembunyikan itu Zahra menunjukkan kekecewaannya pada orang yang menyembunyikan tasnya yang ia anggap sahabat,  tapi apa yang Zahra dapat ?  Orang yang dianggap sahabatnya itu malah mengajak teman-teman di kelas menjauhi Zahra hingga kesokan harinya Zahra dikucilkan.
Belum cukup sampai di sana,  Zahra disuruh lagi oleh temannya itu menulis tanda tangan 1000 Kali,  nggak boleh kurang  nggak boleh lebih kalau mau berteman lagi dengan semua teman. Dan tahu apa reaksi Zahra ? Dia menyanggupinya karena sedih didiamkan oleh teman-teman perempuan sekelas. (Aku nangis).

Sampai akhirnya satu persatu teman-teman selain si yang memusuhi Zahra datang meminta maaf kepada putriku ini tapi meminta Zahra merahasiakannya. Aku tak menyangka bisa terjadi bullying seperti ini di sekolah yang notabene sekolah berbasis agama.

Di atas semua itu yang membuatku sebagai ibunya Zahra sedih adalah Zahra baru cerita kejadian itu sesudah naik kelas dan kelas dipecah serta wali kelasnyapun berganti.  Saat aku bertanya :

"Kenapa Teteh gak cerita sama Umi ?"

Jawabannya adalah karena Zahra nggak mau aku mengadu ke wali kelasnya,  lalu wali kelasnya menegur temannya Dan dalam anggapannya hal itu akan membuat teman-temannya semakin memusuhinya.  Ya Allah, putri kecilku sampai segitu jauhnya memprediksi kemungkinan .

Dari kejadian itu,  dan beberapa kejadian bullying yang terjadi pada anak-anak lain,  aku jadi lebih banyak meluangkan waktu untuk bisa berbagi dengan anak-anak. Anakku ada 4 dan semuanya punya karakter dan masalah yang berbeda.

Tapi,  banyaknya frekuensi bercerita di dalam keluarga ini ternyata tidak menjamin anak  atau pasangan mengungkapkan isi hati yang sebenarnya. Psikolog anak dan keluarga; Ratih Ibrahim menjelaskan bahwa dari hasil survei menyatakan bahwa dari 3 respondent,  2 diantaranya menyatakan alasan kurangnya keterbukaan atau keberanian menceritakan sesuatu adalah karena untuk menghindari konflik atau masalah baru.

Ini persis seperti yang terjadi kepada Zahra,  dia nggak berani cerita peristiwa bullying yang diterimanya oleh teman-temannya kepada uminya karena takut nanti teman-temannya semakin menjauhinya.

Padahal keterbukaaan dan berterus terang di dalam keluarga atas sesuatu hal yang tak mengenakkan bahkan membahayakan itu penting,  dan bahkan bisa membuat bonding sesama anggota keluarga semakin kuat.

Di dalam keluarga,  orang tua terutama ibu memiliki peranan penting terkait ikatan ini.  Ada yang bilang ibu itu jantung keluarga dimana semua hal yang terjadi pada seluruh anggota keluarga terhubung dan terpusat kepadanya.

Ada juga yang bilang :"Mother is "neck" of  family". Ibu itu lehernya keluarga.  Jadi jika ayah itu kepala keluarga, yang memimpin dan memiliki hak penuh atas segala keputusan yang baik untuk keluarga,  maka ibu adalah lehernya yang menyangga sang kepala dan menentukan arahnya.

7 Cara Agar Anak Lebih Berani Bicara

Bisa jadi suatu saat anak-anak dalam kondisi seperti kondisi Zahra di atas,  bisa jadi mereka dalam kondisi lain misalnya dibully orang dewasa lainnya,  atau dia mendapat nilai mata pelajaran yang kurang bagus,  atau mungkin anak mendapat kecelakaan saat bermain yang membuat bajunya robek,  mainannya rusak tapi nggak berani bicara kepada kita orang tuanya. Di bawah ini ada beberapa tips yang mungkin bisa kita lakukan sebagai orang tua agar anak-anak lebih berani bicara,  menyampaikan masalahnya.  Jangan mengira anak hanya bisa membuat masalah saja,  mereka juga ingin bisa mengatasinya,  hanya mungkin belum tahu caranya.  Kitalah yang perlu menunjukkannya .

1. Tanamkan kepercayaan kepada anak

Sejak anak berusia dini,  tanamkan kepercayaan kepada anak-anak bahwa keluarga,  dalam hal ini orang tua,  terkhusus ibu (jika ibu memang punya lebih banyak waktu untuk anaknya) adalah orang yang bisa diandalkan,  bisa diajak bicara tentang masalah -masalah yang dihadapi.  Keberanian untuk bicara berawal dari kepercayaan bahwa sebagai orang tua kita adalah tempat yang paling tepat untuk berbagi.

2. Sharing dengan orang tua bukan berarti mengadu dan anak manja


Sebagai orang tua khususnya ibu kita bisa meyakinkan anak,  membesarkan hatinya bahwa menceritakan masalahnya dengan temannya atau di sekolahnya atau dimanapun tidak berarti dia anak yang cemen, manja,  anak mami atau anak yang pengaduan.  Sharing dengan ayah atau ibu itu penting supaya bisa sama-sama mencari solusi yang baik.

3. Menciptakan suasana yang nyaman 

Suasana yang nyaman itu berpengaruh lho buat anak bisa mengungkapkan isi hatinya.  Dan ini bisa dilakukan dimana saja,  bisa di rumah ataupun di luar rumah seperti di resto, tempat bermain ataupun di mall

Berbincang di luar rumah seperti kafe menjadi pilihan biasanya karena memang tempatnya nyaman.  Tapi di rumahpun kita bisa ciptakan kenyamanan itu,  misalnya sambil main games di gadget bareng.  FYI main games di gadget tak selamanya negatif lho,  apalagi kalau dilakukan bersama,  malah bisa menjalin bonding yang bagus.

Atau seperti yang sering kulakukan adalah dengan minum teh Sariwangi bersama.  Teh manis atau teh tawar hangat selalu bisa menghangatkan perbincangan di keluarga kami karena kebetulan aku dan suami memang penggemar teh tawar hangat sejak kecil.

Untuk acara minum teh ini biar rasanya lebih menyenangkan para bunda bisa tuh membeli cangkir-cangkir dan teko yang lucu dan cantik lebih dulu.  Entah kenapa, perangkat yang indah biasanya akan membantu minuman atau makanan jadi terasa lebih nikmat dan perbincangan lebih hangat. Masih ingat masa kecil kita dulu suka main ibu-ibuan dan tamu-tamuan (((^_^)))

4. Berempati

Untuk memulai pembicaraan dengan topik yang sulit,  sebagai orang tua kita perlu menunjukkan empati. Empati adalah bagaimana kita menempatkan diri pada posisi orang lain yang kita ajak bicara.  Merasakan kesedihannya,  membayangkan perasaannya,  mengira-ngira keadaan bathinnya.  Sehingga dengan hal ini kita lebih mampu mendalami permasalahannya,  menerima kekurang mampuan anak  mengatasi persoalannya,  memahami perbedaan cara pandangnya.  Dengan menunjukkan empati,  anak akan merasa dihargai dan lebih berani menyampaikan apa yang sedang dirasakannya. 

5. Bahasa tubuh yang membesarkan hati

Banyak orang tua yang mengabaikan hal ini,  padahal bahasa tubuh adalah bahasa yang pertama terbaca oleh anak atau siapapun. 

Saat kita menginginkan anak lebih terbuka mau berbicara,  satu hal yang pertama harus nampak di mata anak adalah bahasa tubuh kita yang terbuka baginya untuk lebih berani mendekat.  Dan hal sederhana yang termudah namun juga terpenting untuk ini adalah senyuman dan kelembutan suara.  

Anak jika sedang susah hatinya karena sebab apapun manakala melihat ibunya tersenyum dan menyapanya dengan lembut  seketika itu juga runtuhlah separuh permasalahannya. Tinggal separuhnya lagi mendalami persoalan dan menemukan solusinya. 

Lain jika misalnya anak mau mengadukan nilainya yang jelek pada suatu mata pelajaran di sekolahnya yang belum apa-apa sudah melihat ekspresi wajah ibunya cemberut atau dingin seperti tak peduli,  tentu ini bisa menciutkan hati anak untuk bicara.  

6. Update dan Upgrade diri dengan ilmu

Menjadi kawan bicara yang menyenangkan bagi anak butuh banyak manuver dimana kita tak cukup hanya pukpuk menghibur mereka saat sedang bersedih atau memeluk dan ikut tertawa saat mereka sedang gembira. 

Di era serba digital dan serba aplikasi seperti sekarang menjadi kebutuhan orang tua untuk bisa menyamakan frekuensi dengan anak.  Banyak permasalahan anak juga yang bersumber dari sosial media. Maka mengetahui seluk beluk dunia yang digeluti anak termasuk sosial media atau hal lainnya akan memberikan ruang yang lebih leluasa bagi kita untuk menemukan solusi bagi permasalahan anak. 

7. Membuat lingkaran kepercayaan yang lebih luas untuk anak berani bicara

Maksudnya adalah,  kita bisa juga memberikan sugesti kepada anak bahwa tidak mengapa bahkan baik jika mereka juga mau lebih berani bicara kepada orang lain yang bisa dipercaya,  misalnya guru,  tokoh agama,  atau siapapun yang dianggap expert sesuai dengan persoalan yang sedang dihadapi.  Hal ini akan membantu mereka lebih percaya diri dan menemukan solusi lebih cepat.  

Lebih Berani Bicara dan Mengungkapkan Isi Hati


Pada 9 Mei 2017 yang lalu senang sekali menghadiri undangan dari SariWangi yang bekerjasama dengan Mommiesdaily dalam event talk show yang kebetulan temanya sangat kusukai,  yaitu Lebih berani bicara dan mengungkapkan isi hati yang menghadirkan pembicara Ratih Ibrahim psikolog anak dan Mona Ratuliu ambassador brand teh SariWangi. 

Dalam kesempatan itu mbak Mona mengisahkan pengalamannya sharing dengan keluarga beserta masalah dan solusinya.  Intinya,  dengan berbagi kita akan membangun jalinan bathin yang lebih kuat lagi dalam keluarga.  Tuh kan ternyata artispun sama ya,  merindukan keluarga yang harmonis dengan keluarga.  Bagaimanapun keluarga adalah support system yang sangat berharga dalam kehidupan.  So keep sharing with them.  

"Sometimes a great adventure is simply a simple conversation " _Amadeus Wolf

Mbak Mona Ratuliu the ambassador brand of SariWangi



Dari kiri ke kanan : Psikolog anak & keluarga Ratih Ibrahim,  Senior Brand Manager;  Bpk Johan Lie,  dan Brand Ambassador SariWangi;  Mona Ratuliu

13 comments:

  1. Senang deh kalau anak-anak mau curhat ke kita ya. Berasa jadi best friend mereka hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beneran mbak,aku bahagia banget kalo jadi yang paling dipercaya sama anak sendiri ๐Ÿ˜Š

      Delete
  2. Iya bener, mb win. Bahasa tubuhnya juga harus welcome sama anak. Biar dia merasa diperhatikan tutur katanya.

    ReplyDelete
  3. Iya mb Ila, jangan sampai anak list ortunya udah mengkeret duluan yak, horoor, heheje

    ReplyDelete
  4. Senengnyaaa terdampar di sini, jd dapet iomu lg,
    Tengkiu ya mbk, tinggal aku praktekin nih ke si ken

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaa mb Inda, sama-sama masih belajar nih

      Delete
  5. anakku juga begitu Mak. makasih sharingna, jadi bisa belajar untuk membuka komunikasi yg lbh baik ke anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Says juga masih belajar mbak☺ semoga anak-anak bisa lebih terbuka lagi sama kita orang tuanya ya☺

      Delete
  6. tp kaarkter anak memang berbeda ya, anak sulungku irit bicara hanay bicara kl penting saaj dan butuh aku , tp yg cewek semua diceritakan samapi detailnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak sulungnya cowok ya mb Tira? Memang beda jenis kelamin, beds karakter, beda permasalahan pendekatannya beda juga. Yang penting anak gak ada rasa segan atau takut bicara sama kita kalau punya masalah. Kalau mmg gak ada masalah ya gapapa mereka gak ngomong hehe

      Delete
  7. Butuh pendekatan khusus agar anak mau bicara ternyata. Teriima kasih atas sharingnya kak :-)

    ReplyDelete
  8. Makin tambah usia anak, orang tua makin sering mendekat, itu yang terbaik ya

    ReplyDelete

Terima kasih sudah singgah di Goresanku ya ^_^