Tuesday, March 15, 2016

Pengaruh Keharmonisan Keluarga Saat Ini Pada Kehidupan Anak Kelak Saat Berumah Tangga

Pengaruh keharmonisan keluarga saat ini pada kehidupan anak kelak saat berumah tangga

Disclaimer : 

Tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para orang tua tunggal / single parents yang sedang menjalani tugas dan perannya dengan penuh dedikasi dan integritas sebagai orang tua bagi anak-anaknya, tulisan ini ditujukan sebagai sharing pengalaman teman, konflik dan solusinya ditinjau dari sisi psikology.

***

Angka perceraian yang tinggi di masyarakat kita selama ini tidak terlalu mengusik pikiran saya, sering merasa itu hanya terjadi dan menimpa orang lain saja bukan orang-orang di sekitar yang dekat dengan kehidupan saya. Sampai kemudian seiring waktu saya mengenal beberapa orang yang hidupnya dirundung masalah rumah tangga bertubi-tubi,  membuat saya ingin lebih erat mendekap keluarga dan berharap bisa terus menjaga keutuhan dan keharmonisannya. Bukan semata-mata untuk saya dan suami saja, lebih dari itu untuk kehidupan berkeluarga anak-anak saya kelak. Ternyata, ada kaitan yang sangat erat antara keharmonisan keluarga saat ini dengan kehidupan berumah tangga anak-anak yang positif kelak.

Seorang teman pria saya yang sudah lama tak bertemu dalam suatu kesempatan bercerita kepada saya dan membuat saya termenung lama karena kisah hidupnya yang rumit. Teman saya ini di usia matangnya di mana kebanyakan teman-teman pria saya lainnya justru sedang menikmati kesuksesan mereka seperti puncak karir, keluarga yang lengkap dan harmonis, penampilan yang paripurna dsb, pada sahabat saya ini justru sedang mengalami episode hidupnya yang muram. Bukan karena soal karir, ekonomi, ataupun penampilan, karena jika dilihat secara kasat mata, dia sebagaimana pria sukses kebanyakan, sangat meyakinkan. Yang tak dimilikinya hanyalah satu, namun justru yang paling berharga, keluarga. 

Mendengar pengakuannya sempat membuat saya terkejut karena benar-benar di luar dugaan saya, tak berkeluarga bukan karena ia belum menikah, melainkan di usianya yang masih 40-an tahun teman saya ini justru telah melakukan 4 kali pernikahan, namun 4 kali juga perceraian dengan berbagai latar dan alasan. Jika dirata-rata, teman saya ini berarti hanya menikmati masa berumah tangga dengan mantan-mantan istrinya masing-masing sekitar 4,5 tahun saja. Meski nampaknya kini sedang dalam proses menikah lagi, namun dari apa yang diceritakannya sungguh membuat hati miris.

“Saya gagal membina rumah tangga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Dalam hati saya selalu merasa kesepian. Broken home forever”.

Broken home forever, sebuah ungkapan yang saya melihatnya sebagai keluhannya atas hal-hal menyedihkan yang sudah dia terima sejak usianya masih kanak-kanak, dimana dahulu saat usianya belum melampaui masa balita orang tuanya telah bercerai dan dia sendiri harus rela tinggal bersama ayah dan ibu tirinya.

Tak runut sepenuhnya, tapi ia berterus terang bahwa hubungannya dengan sang ibu tiri tidaklah baik yang berlanjut hingga usia dewasanya kini di saat sang ayah telah tiada lagi. Di masa kecil hingga remajanya kerap berpindah-pindah sekolah yang notabene juga berarti berpindah-pindah daerah bahkan negara karena mengikuti keinginan dan rencana ayahnya yang pengusaha.
Mengamati kata-kata dan sikapnya, pandangan subyektif saya menilai teman saya ini seorang  yang di luar terlihat memiliki self confident yang kuat, seorang yang humoris, ceria namun sesungguhnya he’s an introvert man inside.

Terkadang ucapannya terdengar berlebihan dalam menilai orang lain tentang dirinya, seperti ucapan bahwa orang-orang tertentu menyukainya bahkan mencintainya / dalam bahasa slank mungkin bisa dibilang kegeeran (memang secara fisik dia termasuk good looking man), tapi hal itu belum tentu /tidak seperti yang diucapkannya sesungguhnya.

Pada kesempatan lain, kepada saya dia acap mengungkapkan bahwa sebenarnya dia cenderung menghindari bertemu kawan lama, karena alasan dulu merasa tak punya teman akrab, sering bermasalah dengan teman-teman seangkatan (dulu memang dia dikenal sebagai anak bandel tukang berkelahi), dan track record kondisi rumah tangga/ keluarganya yang porak poranda.

Kepada saya dia mengatakan bahwa sekarang dia semakin “hancur”, bahwa seluruh usahanya dalam keadaan bangkrut (meski setiap hari dia selalu berpenampilan necis dan berkendaraan bagus dan sedang terus bangkit membangun kembali usahanya), bahwa dia punya penyakit kronis yang tidak semua wanita bisa menerimanya jika kelak menikah dengannya dan bla bla bla lainnya.

Menurut pengakuan teman saya ini juga, penyebab perceraiannya dengan mantan-mantan istrinya adalah karena bermacam-macam latar belakang, ada yang karena menikah tidak atas dasar cinta, ada yang karena merasa dijebak sehingga menikah dalam keadaan terpaksa, ada karena perselingkuhan dsb. Yang pasti, dia tak sebahagia yang terlihat, banyak sekali yang harus disesuaikan, baik keadaan maupun suasana hatinya. Bisa dibayangkan, betapa sulitnya menata kembali apa yang telah rusak karena sebuah perceraian, apalagi jika perceraian itu teradi berkali-kali.

Sebenarnya kasus yang mirip dengan hal di atas pernah saya temui juga jauh sebelumnya, seorang bapak kaya raya pengusaha bahan bakar minyak dan gas berusia lebih dari setengah abad pernah mengadukan keprihatinan hidupnya juga karena “kebiasaannya” kawin cerai. Di usianya yang sudah tak muda lagi harus kerepotan mengurus anak-anak yang masih kecil yang dipertahankannya dalam hak asuhnya. Ternyata memiliki pola asuh di masa kecil dari lingkungan yang hampir sama dengan kasus temanku tadi, yakni perceraian orang tua. Meskipun bergelimang harta karena lahir dari keluarga berkecukupan tapi perceraian demi perceraian yang dialaminya telah meninggalkan trauma mendalam, terutama bagi anak-anaknya. Luka yang berlanjut generasi demi generasi.

Pentingnya Keharmonisan Keluarga  Untuk Masa Depan Anak


Menurut pakar psikologi Najjah Assegaf S.Psi, anak-anak secara default merekam apa yang dialaminya di  masa kecilnya. Ada korelasi  yang sangat signifikan antara hubungan yang harmonis dalam keluarga dengan kepribadian positif seseorang. Dalam perkembangan dan pertumbuhan seorang anak, peran orang tua yaitu ibu dan ayah yang harmonis sangatlah penting.

Dalam psikologi perkembangan dijelaskan bahwa di setiap masa perkembangan anak ada yang disebut dengan tugas atau moment-moment perkembangan. Tugas atau moment ini harus dilalui untuk membentuk perkembangan fisik , psikis, intelegensi dan emosional anak. 

Periode perkembangan ini diawali dari masa dilahirkan sampai masa usia lanjut. Tugas atau moment perkembangan ini bisa gagal dilalui apabila hubungan keluarga termasuk di dalamnya peran ibu dan ayah tidak harmonis. Idealnya, periode perkembangan ini harus dilalui secara mulus oleh anak agar memperoleh kematangan fisik, psikis, intelegensi dan emosional yang ajeg, tapi karena latar belakang budaya dan keterbatasan ilmu orang tua, membuat ada tugas/moment perkembangan yang tidak dapat diselesaikan dengan baik oleh anak-anak. Namun, jika orang tua selalu mendampingi maka problem kegagalan itu bisa terurai dan diperbaiki.

Pada awalnya, anak-anak tumbuh dan berkembang di dalam tempat yang terbatas yaitu rumah. Maka di dalam tempat yang mula dan terbatas inilah pribadi anak dibentuk terutama oleh hubungan ayah dan ibunya bersama mereka.  Pada perkembangannya, hubungan keluarga menentukan pola sikap dan perilaku seseorang kelak dengan orang lain. Memang anak bertambah besar dan bertambah pergaulan, tapi apa yang diterima ketika di rumah pertamanya sejak kecil itulah yang akan menetap sebagai dasar kepribadian.

Hubungan keluarga sangat mempengaruhi hubungan sosial di luar rumah. Pola peran dalam rumah akan dibawa ke pola peran di luar rumah.
Kekecewaan pada hubungan orang tua yang tidak harmonis bisa menjadi alasan kenapa seseorang melakukan hal yang sama kelak meskipun dia memiliki pengetahuan tentang keluarga yang harmonis dan mendambakannya.

Efek trauma akibat perceraian orang tua biasanya lebih besar dari efek kematian. Perceraian menimbulkan rasa sakit dan tekanan emosi bahkan acapkali juga celaan sosial. Efek perceraian sangat berpengaruh, khususnya terhadap anak-anak. Memang ada anak-anak dari orang tua bercerai mampu menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi, tapi dalam prosesnya lebih berat dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang utuh. Bercerai sekali saja banyak hal dan kondisi yang perlu disesuaikan dan diperbaiki, bisa dibayangkan apabila perceraian terjadi lebih dari sekali.

Pada kasus teman saya di atas, ibu Najjah menambahkan nampaknya ini yang sedang dialami oleh teman saya tersebut. Penampilan yang rapi dan keren, ekonomi dan pekerjaan yang mapan serta latar belakang keluarganya yang pengusaha kaya bisa menjadi pemicu eksternal teman saya itu untuk melakukan hal-hal negatif dalam usahanya menutupi kegagalannya akibat dari trauma masa kecilnya.


Tapi, di luar itu semua ibu Najjah mengatakan bahwa untuk keluar dari keadaan itu diperlukan usaha ekstra keras dari diri teman saya sendiri  dan bantuan dari orang-orang di sekelilingnya ataupun tenaga ahli. Seandainya teman saya mendapatkan pasangan yang mampu memahami kondisi dirinya seperti itu dan berusaha membantu mengurai kegagalan yang sudah dialaminya bisa diharapkan itu akan mengubah keadaan teman saya. 

Pelajaran hidup yang besar yang sering diabaikan ternyata berserakan di sekitar, baru terasa pentingnya manakala ada orang-orang terdekat yang mengalaminya. Semoga bermanfaat. 

14 comments:

  1. Tulisan yang bagus sekali, mba Winny. Pada kenyataannya, saya juga menemukan banyak kasus seperti di atas. Anak yg ortunya bercerai, kelak mereka juga sulit mempertahankan rumah tangga.

    ReplyDelete
  2. Good Opinion Mba :)
    Tapi terlepas dari semua itu, jika kita mampu memberikan pengertian mengapa kita bercerai kepada anak ketika mereka sudah dewasa, hal itu tak akan terjadi, tergantung si single parent tersebut membimbing dan memberikan pola pikir tentunya.
    Saya yakin setiap single parent tak menginginkan perceraian. Keadaan dan takdirlah yang membuatnya menjadi single parent.

    ReplyDelete
  3. Menyembuhkan trauma masa kecil memang butuh usaha ekstra. Sayangnya, gak semua orang terdekat paham soal ini.
    saya tahu bagaimana sulitnya itu.

    ReplyDelete
  4. Betul yang dikatakan mb Ani Berta, bila orangtua yang bercerai memberi pemahaman pada si anak, kemungkinan si anak mengalami hal yang sama yang terjadi pada ortunya kecil.

    ReplyDelete
  5. Waah, artikelnya siiip, layak muat nih di majalah wanita .
    Beberapa kawanku yang kebetulan single parent perempuan, banyak yang hebat.
    Mampu mengasuh anak sampai mandiri lahir batin, dan anak-anak tidak terkena imbas dari perceraian.

    ReplyDelete
  6. Bener bgt mba.. efek broken home itu jauh beda sm efek kematian orang tua.. meski sama2 ga pny ortu lengkap tp biasanya dr segi mental anak2nya ke depan itu beda ya

    ReplyDelete
  7. Iya mbak... Semoga kita selalu diberikan kelancaran dlaam membina rumah tangga buat anak2 kita. Tapi kalau misalnya nggak juga dan orang tua harus berpisah, semoga kuat agar anak2 tetap kuat lahir batin

    ReplyDelete
  8. Nyerap ilmunya ya Mbak... ��

    ReplyDelete
  9. Setuju banget Mba. Apa yang dialami anak-anak saat kecil ngaruh banget ke nanti dia dewasanya bagaimana. Saya juga single parent Mba, meski bukan karena cerai/meninggal tapi karena pilihan, semoga anak saya ntar ngga trauma menikah ya.

    ReplyDelete
  10. Tulisan yang bagus mba. Jadi PR orangtua menjaga keharmonisan. Bagi single parent bisa jadi wawasan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak.

    ReplyDelete
  11. Inspiratif
    smoga bisa menjadi bahan introspeksi diri
    salam sehat dan sukses amin

    ReplyDelete
  12. yah saya setuju banget dengan ulasan mbak di atas itu. kehidupan anak-anak kedepannya memang penting banget. dan itu harus di barengi dengan keharmonisan keluarganya atau agar anak merasa nyaman terus dan memiliki keluarga yang hebat.

    ReplyDelete
  13. Mbak Winny,kadang orang memandang sebuah perceraian dari sudut negatif.Agama manapun tdk ada yg menghendaki perceraian,namun byj faktor penyebabnya.Namun jika mmg trauma masa lalu broken heart tentunya itu bukan alasan utk menghancurkan RT nya kelak.Masa lalu bkn utk dikenang,krn kpn hari esok akan disongsong kl kita terpenjara oleh masa kalu

    ReplyDelete

Terima kasih sudah singgah di Goresanku ya ^_^