Friday, September 11, 2015

You Will be There Someday

You will be there someday  - Suatu hari, udah cukup lama juga sih kejadiannya, saya posting foto hadiah lomba sebuah Giveaway (GA)  yang berukuran cukup besar di Facebook. Di captionnya saya hanya mengucapkan terima kasih pada si pengirim yang juga penyelenggara GAnya.  Di antara sekian banyak teman yang berkomentar positif, ikut senang dan mengucapkan selamat, ada seseorang yang  berkomentar seperti ini :

“Harus ya, hadiah dibikin jadi status ?”

Wah, itu pertama kalinya saya dapat komentar yang agak “jleb” gimana gitu, ada sejenak waktu saya perlu memastikan, apakah komentar ini dimaksudkan untuk bercanda atau memang bersifat korektif untuk saya.

Keheranan saya terjawab, setelah memperhatikan dinding Fb si pengomentar ternyata dia bukan sesama  teman blogger di mana teman blogger  lainnya memang menguasai friend list saya di FB secara kuantitas.

Sejak tahu orang itu bukan blogger, saya jadi maklum. Ooh ini orang bukan blogger ataupun penulis, jadi kurang memahami kebiasaan blogger yang salah satunya jika mendapat apresiasi atas karya tulisnya berupa hadiah apapun bentuknya (saat dia memenangkan sebuah kompetisi menulis) biasanya akan dipublish. Dan publishing itu punya alasannya tersendiri yang sesama penulis biasanya sudah faham betul, misalnya :

  1. Untuk menghargai dan berterima kasih kepada si pengirim, berharap dengan cara itu akan menyenangkan hatinya.  
  2. Untuk mengkonirmasi si pengirim bahwa hadiah telah sampai ke tujuan dengan selamat. Kenapa konfirmasi pengiriman sudah sampai aja harus upload di sosmed ? Nggak japri aja. Dari sudut pandangku, konfirmasi yang dipublish akan memberi kesan baik kepada publik atas penyelenggara GA  bahwa sang penyelenggara profesional, benar-benar melaksanakan janjinya kepada para pemenang untuk menyerahkan hadiahnya.
  3. Atas permintaan panitia lomba, di mana selain untuk alasan ke-2 di atas, publishing hadiah yang kita terima itu juga akan  menjadi promo tersendiri atas brand para sponsor.
  4. Sebagai tanda syukur dan berharap menjadi penyemangat (inspirasi) bagi orang lain untuk terus berusaha (khususnya dalam hal kompetisi menulis).
 Jadi, berhubung teman yang berkomentar kurang “genah” tadi bukan seorang penulis/blogger, saya biarkan aja komentarnya tanpa jawaban.  Itu mungkin karena dia belum faham aja. Dan jujur, saya memang nggak tahu harus jawab apa, nggak yakin apa bijaksana atau nggak kalau saya jawab panjang lebar seperti 4 alasan di atas untuk situasi seperti saat itu. Mendingan kalau mau nulis panjang lebar saya tulis di blog aja kayak gini, lumayan buat nambah-nambah postingan kan hehehe.

Jadi lagi, ini menurutku ya (kalau menurut yang lain ya tulis aja di blognya sendiri hehe) saat membaca/ mendengar/mengetahui ada nyinyiran/sindiran yang nggak mengenakan dari orang lain tentang sesuatu yang berkaitan dengan apa yang kita pilih/ apa yang kita sukai/ apa yang kita tekuni/ apa yang kita perjuangkan cari tahu dulu apa kira-kira penyebabnya. Ya memang nggak enak ya kalau kita disangka yang bukan-bukan, tapi kita memang nggak bisa juga menuntut orang lain semuanya sepemikiran, sepemahaman  apalagi sehati sama kita kan ?

Demi kedamaian hati sendiri, abaikan aja hal-hal yang kalau diambil pusing ya bakal pusing, kalau dipakai kesal ya bakal kesal. Kalau mau segala diambil, siapa yang rugi ayoo ? kita sendiri ya. Padahal dari semula kita nggak pernah melibatkan mereka para penyinyir itu dalam keasyikan kita berkarya. Kita bahkan nggak pernah kepikiran kalau bakal dinyiynyirin kan kan kan ?

Etapiii, saya kadang mikir begini juga, soal nyinyir menyinyir, soal sindir menyindir ini terkadang diperlukan juga. Jadi semacam suplemen kira-kira. Ini khusus buat saya sendiri lho ya, waktu saya dikomentarin nggak enak kayak saya ceritakan di atas, dan untungnya saya nggak reaktif, saya jadi ada waktu buat meriksa niat saya sendiri. Gapapa kan ya saya nulis soal niat. Bagaimanapun, niat awal saya dulu ngeblog kan buat kebaikan, terutama kebaikan diri saya sendiri. Kepingin, aktivitas menulis saya ini nggak cuma baik di mata manusia, tapi juga baik dalam pandangan Tuhan. Kalau udah Tuhan urusannya, memang kudu hati-hati jaga segalanya. Termasuk mensikapi hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan menulisku.

Kalau ada orang negur, kasih kritik, sampai nyindir-nyindir mungkin itu pagar-pagar tak kasat mata yang disediakan Tuhan buat kita agar nggak kebablasan happy-nya, nggak kebablasan bangganya, nggak kebablasan merasa bisanya. Jadi semacam dikasih kesempatan lihat marka di jalan kepenulisan kita, buat kontemplasi lagi, buat introspeksi diri lagi. Bahwa, :

“Eh bener ya, yang membisakan kita jadi seperti ini kan Allah ya. Kalau nggak bersama Tuhan, bernafas aja kita nggak bisa. Kalau sekarang bisa nafas, bisa bergerak, bisa mikir, bisa berbuat, itu karena Tuhan selalu membersamai kita ya. Ya udah gapapa, mungkin ada benarnya kata-kata mereka itu.  Kalaupun salah semuanya berarti mereka nuduh. Nuduh itu kan dari prasangka buruk, dan itu dosa. Ya udah berarti masalahnya bukan di saya, tapi di orang yang berpikiran negatif itu. Kembalikan aja sama Tuhan. Bukankah segala puji hanya milikNYA ? ”.

Saat kritikan diterima dengan pandangan seperti itu, yang saya rasakan hati jadi tenang. Saya belajar dari orang-orang baik yang terus berbuat baik saat mereka selalu dikritik, dinyinyirin, bahkan dihina dan dihujat.

Eh betul berpengaruh betul lho kesabaran mereka menghadapi hinaan dan hujatan itu pada pola rasa dan pola sikap saya. Betul-betul suri tauladan itu efeknya dahsyat. Orang-orang baik yang nggak tumbang karena cacian dan makian, tapi juga tak terbang dengan pujian dan sanjungan, adalah orang-orang yang pantas bertahan dalam kebaikannya, dan karena semua dinamika itu menjadilah mereka orang-orang yang teruji dan terpuji.

Sekarang ini, saya fokus aja dengan kebahagiaan saya blogging. Fokus dengan cita-cita saya yang lain yang terus saya bina. Senang dengan apa yang sudah saya dapatkan, jika bisa saya akan merayakannya, meski merayakan itu hanya sekedar dengan posting foto hadiah lomba menulis misalnya (kalau karena itu terus orang-orang mau bilang saya sok pamer atau apalah apalah ya itu bukan masalah saya). Yang penting saya aman dengan niat saya. Yang penting saya bisa terus mengejar impian-impian saya. Yang nyinyir mah tinggalin aja hehe.

Dua hari yang lalu saya sempat terharu membaca postingan teman blogku mbak Haya yang sedang memajang foto dirinya di luar negeri dan di captionnya dia mention seorang sahabatnya dengan kata-kata :

”You will be here someday, Muna because of blogging !^^ #HappyBloggers.

Terus terang, saya merasa kata-kata itu ditujukan pada diri saya sendiri, pada mimpi-mimpi saya sendiri. Ya, sayapun akan mencapai tempat-tempat yang saya impikan, pada hal-hal yang saya cita-citakan. Dan sampai saat ini hati saya terus berkata :

“You will be there someday, Winny.  You will be there, because of blogging !”


Aamiin ya Rabb ... Aamiin ...

21 comments:

  1. nganuu...ini kejadian juga sama temenku :D
    tapi sama2 blogger seh :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya yang suka post hadiah kebanyakan blogger Chaa hehehe

      Delete
  2. aamiin, mbak winny kalo aku postig hadiah soale memang panitia yang minta, kan sebagai publikasi mereka juga, kecuali aku bikin caption yg merendahkan orang lain karena kemenangan ku baru deh timpukin aku pake iphone 6 rame2 *maunya* semoga tak ada yg merasa tersakiti karena postingan2 ku, tidak bermaksud seperti itu soale

    ReplyDelete
  3. Kalo aku perihal nyinyir yg bikin pusing kepala ga kugubris mak.. seperti dirimu lebih baik fokus ke hal2 positif aja. We will be there someday... because of blogging
    Semangat ya #hugs

    ReplyDelete
  4. aamiin...semangat makk
    kalo aku ga sirik liat temen posting hadiah dr ngeblog. kagum aja. sedangkan diri sendiri emang jarang banget dapet hadiah. wong ngelomba aja males hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha aku ngelomba jg udah jarang mb Inna

      Delete
  5. Duh, perih-nyelekit-gimana gitu yah kalo dapet komen begitu :(

    Tabahkan hatimu yaaaah....

    Tapi akan selalu ada aja sih orang2 kayak gitu Win, jadi sebaiknya memang diabaikan aja dan tetap fokus ama kebahagiaan kitaaa...setuju pisan lah :)

    Dan turut meng-amin-kan doamu yah, semoga bisa melangkahkan kaki kemana pun itu yang diinginkan dari hasil nge-blog :))

    Fighting!!

    ReplyDelete
  6. Iya, yang negatif tinggalin aja. Kita fokus ke yang positif ya, Win. Kita saling mendoakan. Semangat! ^_^

    ReplyDelete
  7. betul mba, kita upload foto hadiah GA/lomba memang utk menyenangkan hati yg punya hajat. Jadi biarkan saya mereka berlalu :)

    ReplyDelete
  8. ya sekarang gitu mbak serba salah ya upload hadiah dibilang pamer padahal emang ada tanggung jawab ke brand. LAnjut aja gpp hehehe

    ReplyDelete
  9. Saya memilih fokus pd diri dan hidup saya sendiri mak...hidup sy udh sibuk hihihi gak ada waktu buat nyinyirin org lain. Toh saya selalu menekankan diri untuk byk maklum sm org lain. Alasannya knp ? Demi kedamaian diri juga...nuhun teh :)

    ReplyDelete
  10. Tampar-tampar muka sendiri!
    Terima kasih untuk pencerahannya, dear. Truly inspire!
    Salam dari Bumi Borneo, ~_*

    ReplyDelete
  11. hikss.... baca ini jadi pengen nangis rasanya :')

    ReplyDelete

Terima kasih sudah singgah di Goresanku ya ^_^