Thursday, July 16, 2015

Masjid Agung Bandung

Masjid Agung Bandung - Sekitar pukul 3.30 pagi hari Rabu kemarin tim mudik keluarga Suherlan tiba di gerbang tol Bandung, alhamdulillah. Masih ada waktu untuk sahur, suami langsung mengarahkan mobil ke restoran sunda favoritnya jika berada di Bandung ‘Laksana’. Sayang, destinasi kami ternyata tutup akhirnya kami memutar menuju resoran ‘Ampera’ di seberangnya yang sebenarnya makanannya enak-enak juga menurut saya.

Selesai sahur, tiba-tiba ada request untuk shalat shubuh di Masjid Agung. Mesjid yang biasa kami orang Bandung menyebutnya seperti itu sebelum sekarang dikenal sebagai Masjid Raya Bandung.Tanpa berpikir lagi, semua tak ada yang tak sepakat. Saya sendiri sangat akrab dengan mesjid itu saat sebelum menikah. 

Selain Mesjid Salman ITB, Masjid Raya termasuk yang cukup sering saya kunjungi untuk mengaji atau sekedar bertemu teman-teman. Dulu, selain untuk tempat shalat, mesjid adalah tempat favorit saya untuk belajar (materi perkuliahan), untuk “ngadem” membaca/mendengar orang mengaji atau sekedar untuk curhat-curhatan dengan teman. Saya bisa menghabiskan membaca sampai dua buku baru jika berada di dalamnya seorang diri, tapi saya juga bisa betah berlama-lama ngobrol dengan sahabat, menjadi pendengarnya yang baik hanya karena nyaman berada di dalam semua mesjid itu.

Tak sampai setengah jam mobil kami sampai ke pelataran sebelah kanan pekarangan Mesjid Raya. Suasana shubuh yang syahdu tiba-tiba menyergap. Saya hirup dalam-dalam udara Masjid Agungku, suasana mesjid di manapun memang selalu menyentuh. Saya berusaha capture beberapa spot sebelum akhirnya dengan terburu-buru kami menuju tempat wudhu karena shalat shubuh berjamaah sudah dimulai.

Saya mengucap salam ke arah kanan dan menyapu ruangan yang begitu luas dengan pandangan sebelum menutup salam. Sepertinya saya baru shalat di tempat shalat jamaah wanita, ada serupa mimbar di depan saya namun dalam ukuran pendek, tapi entah kenapa di sekitar saya bergeletakkan para pria dalam lelap.

Saya berdzikir tapi mata saya juga tak henti menjelajah segenap ruangan. Di mesjid ini tersebar tiang-tiang berdiameter lebar. Suara teduh seorang penceramah sedang menyampaikan taujih terdengar agam dari arah depan. Arah depan yang tak bisa saya jangkau dengan penglihatan karena jaraknya cukup jauh dari tempat saya barusan sembahayang. Saya lalu teringat saat masa SD hingga SMP duduk seperti ini menyimak ceramah shubuh di mesjid dekat rumah. Rasanya saya tak keberatan mengulang masa itu meski harus mencatat ceramah dengan jemari rusuh sebagai tugas dari sekolah hehehe. 

Begitu syahdunya, sampai saya lupa untuk membidik ruangan dalam mesjid dengan kamera.
Asyik dengan lamunan, tak sadar suami sedang memperhatikan dalam senyuman. Sedikit malu saya lalu beranjak dari sajadah dan bergabung dengan anak-anak yang sudah ribut di teras mesjid mencari-cari alas kakinya. Alhamdulillah, lega mendapati alas kaki kami masih berjajar di tempatnya, setelah mendengar di sebelah saya seorang bapak berasal dari luar kota kehilangan sendalnya. Fyuhh, masih ada aja kejadian seperti ini. Kasihan, semoga setelah ini urusan sang bapak dimudahkan.

Saya lalu mengikuti langkah suami dan anak-anak menuju taman. Sebuah taman yang dirancang sangat artistik oleh sang walikota Bandung Ridwan Kamil yang fenomenal itu. Taman yang segera mencuri perhatian. Tanaman-tanaman tanpa bunga namun berdaun aneka rupa dan warna menghiasi setiap sudut dan sepanjang langkah kaki kami. Si sulung Zahra berbisik di telinga :

“Mi, foto-foto yuk”

Ah ya, sekarang saya ingat lagi dengan kamera smartphone saya yang saya simpan. Segera saya mengeluarkannya dari saku dan mengambil beberapa shoot dengan gadis remajaku yang hobi banget wefie dengan ibunya ini. Sampai-sampai saya tersadar, itupun karena mendengar suara teriakan. Teriakan anak-anak yang bermain bola di lapangan masjid raya. Saya lalu mengarahkan pandangan ke arah teriakan-teriakan riang itu, dan saya melihat hamparan karpet hijau membentang luas sejauh mata memandang bersambungan dengan horizon langit shubuh yang masih kelam namun begitu gemintang. Masya Allah, indahnya.

Orang-orang lalu lalang di karpet tebal itu, dan begitupun dengan keluarga saya. Saya sendiri penasaran, tapi tak tahan dengan rasa dingin dari embun yang menyelubungi permadani hijau itu. Setelah foto-foto sebentar, saya segera mengenakan lagi sepatu dan lebih memilih berjalan-jalan menyusuri taman.

Ada beberapa hasil karya seni yang saya lihat bertebaran di taman mesjid raya ini, di anatara tugu peraturan publik berupa semacam tiang namun terdiri dari kubus-kubus yang seolah disimpan bertumpuk berwana merah terang. Ada juga pagar tinggi berbaris-baris di sepanjang batas pekarangan masjid sebelah timur yang komposisi wana catnya dari kejauhan terbaca tulisan :”Bandung”.

Saya juga suka dengan bentuk kursi-kursi dan lampu-lampu tamannya yang bergaya eropa kuno yang yang menebar di sepanjang trotoar mengelilingi bangunan mesjid. Nampaknya, design eksterior masjid berikut trotoar dan jalanannya terkoneksi dengan design bangunan dan kursi serta lampu taman yang ada di seberangnya di jalanan sepanjang gedung Merdeka.

Hal-hal lucu terjadi saat anak-anak melihat gedung Merdeka ini, mereka tertawa cekikikan karena teringat tayangan televisi favorit mereka di sepanjang bulan ramadhan ini yaitu :”Preman Pensiun”. Mereka menunjuk-nunjukkan jarinya ke arah gedung Merdeka sambil menyebut nama tokoh-tokoh ‘Preman Pensiun’ yang sering mengocok perut mereka.

“Iiih di situ kan kantornya Pipiiit, hahaha”

“Komar mana yaaa ?”  J)))))

“Kang Muuus, Ceu Edoh manaaa  hahahaha ?”

Aah senangnya bisa membawa krucil ke tempat ini. Semoga masih banyak waktu kami untuk menjelajah kota kelahiran ini di lain hari. Bagaimanapun kami harus segera ke rumah Papa hingga akhirnya kami berpamitan pada masjid raya kebanggaan kotaku :”Mesjid Raya Bandung”
“Assalamu’alaikum Masjid Agung Bandung


Mesjid Raya dari kejauhan, sejenak saat kami baru saja sampai
Menyempatkan capture  foto keluarga dengan background Mesjid Raya
Krucils 
Rahma senderan tangan di menara masjid (seolah-olah) hehehe
Faishal dan Zahra
Tugu Peraturan (Dilarang foto-foto lebay katanya :)))
Segaaaar
Enjoy the landscape
Zahra
Zahra lagi
Abaikan muka belum mandinya

2 comments:

  1. Waalaikumsalam dari Cikampek mbak :)

    ReplyDelete
  2. wah, mudik yang menyenangkan ya mbak sekalian wisata religi :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah singgah di Goresanku ya ^_^