Tuesday, July 28, 2015

Jangan Panik Kala Anak Sakit

Jangan panik kala anak sakit - Sejak pulang dari mudik lebaran, Rahma sudah 3 hari ini naik turun suhu badannya. Awalnya saya mengira mungkin ini karena dia sangat kelelahan. Biasanya, gejala demam yang disebabkan daya tahan tubuh yang turun karena kelelahan begini hanya berlangsung selama satu dua hari saja.

Tapi perkiraan saya kurang tepat, sampai hari ketiga Rahma masih demam, malah selain gejala pusing sekarang ditambah dengan keluhan nyeri sendi bahu dan dada (ulu hati). Dokter memperkirakan ada infeksi karena ketahuan ada kelenjar getah bening di bagian paha Rahma yang membengkak.


Sepulang dari dokter anak langganan keluarga kami di RSUD Bogor, demam Rahma tak mereda. Padahal dokter sudah memberikan antibiotik yang diperkirakan sesuai dengan penyakitnya.

Semakin malam Rahma semakin rewel, mengeluh sakit di bagian kedua bahunya dan agak sesak nafas. Yang buat saya dan suami panik adalah tangisannya disebabkan sakit di kedua bahunya itu. Rahma hanya sempay tidur sebentar untuk kemudian menangis terus di gendongan saya.

Karena khawatir ada sesuatu, akhirnya tengah malam ini kami membawanya ke rumah sakit yang sama tapi berhubung sudah larut kami membawanya ke bagian IGD.

Saat mobil mendekati ruang IGD Rahma masih menangis, tapi saat dibaringkan di ranjang IGD tangisnya sama sekali hilang. Malah Rahma tampak segar saat diminta menimbang berat badannya. Dia bersama saya dan Abynya sama menunggu kedatangan dokter dengan ocehannya sebagai saat dia sehat saja.  Tak nampak bekas-bekas kesakitan lima belasan menit sebelumnya saat masih di rumah.

Saya agak lega dengan perubahan ini bahkan jadi sedikit geli melihat gadis kecilku ini dengan bawelnya bertanya ini itu mengomentari pasien lain yang satu ruangan di IGD.  Lha, yang nangis kejer tadi itu di mana ya ?

Tak lama kemudian datang seorang perawat dengan seperangkat alat untuk memeriksa darah. Saya terus perhatikan raut wajah Rahma. Ekspresinya lucu penuh rasa ingin tahu mencermati jemari sang perawat yang sedang menyiapkan alat suntik.

Saya coba antisipasi ketakutan Rahma ditusuk alat suntik untuk mengambil darahnya dengan mengajaknya berbincang, tapi tentu saja Rahma tak mau melewatkan hal "menarik" yang sedang perawat lakukan di lengannya. Berkali-kali Rahma menoleh ke arah lengannya yang sedang diolesi sekapas alkohol, belum sadar dia apa yang akan terjadi.

Saya tak ingin dia kaget, saya coba siapkan hati Rahma diambil  sedikit darahnya. Tapi tak urung, saat jarum suntik menembus kulitnya Rahma memekik juga.

Selama menunggu hasil pemeriksaan lab darahnya, Rahma kembali ceria bahkan sempat saya capture pose cantiknya (teuteup senyum kalo liat kamera). Dan berbagai cerita unik meluncur dari bibir mungilnya. Ahh semoga saja hasil lab darahmu baik-baik aja ya Nak.

Dan, akhirnya dokter memanggil saya dan Aby untuk menjelaskan hasil lab Rahma. Alhamdulillah, kecuali data leukositnya, semua hasil cek darahnya normal. Hanya memang ada koreksi pada obat penurun panasnya yang kemungkinan membuat masalah di asam lambung Rahma yang membuatnya sesak nafas. Saya bersyukur sekali, Rahma tak harus menginap di rumah sakit yang akan membuat keluarga sangat bersedih.

Pesan moralnya hanyalah, apapun reaksi anak saat sedang sakit berusahalah tetap tenang. Namun perhitungkan langkah yang perlu diambil untuk menolong anak dari kesakitannya. Kadang anak menangis karena stress, kekhawatiran yang berlebih dari rasa sakitnya. Ini wajar, karena anak memang belum sepenuhnya miliki kemampuan mengelola perasaannya. Yang penting, kita sebagai orang tua tak terbawa perasaan agar lebih mudah mengambil keputusan.

What a night story, semoga Rahma semakin sehat. Mohon do'anya ya.

Biar lagi sakit tetep senyum ya Neng :-)





  









Sent from Samsung Mobile

3 comments:

Terima kasih sudah singgah di Goresanku ya ^_^